Kamis, 26 Februari 2009

siapkah ananda masuk SD?

Bulan Januari dan Pebruari adalah masa-masa sibuk orang tua mencarikan sekolah yang tepat untuk ananda. Hati berdebar ketika ananda mengikuti "ujian" masuk SD. Bagaimana tidak berdebar, materi ujian memang banyak yang cukup bikin deg-degan orang tua: membaca dan menulis kalimat, Matematika (operasi bilangan seperti penjumlahan dan pengurangan). Kalau ujiannya di sekolah Islam, biasanya ditambah dengan hafalan beberapa surat pendek dan doa-doa harian. Kalau mau masuk sekolah dwibahasa, ditambah tes bahasa Inggris.

Banyak juga orang tua yang melihat ananda sudah pandai membaca dan menulis meski usianya baru 5 tahun dan masih duduk di TK A, lalu berpikir "Hmmm.. kenapa tidak langsung masuk SD saja??"

Apa sebenarnya indikator kesiapan ananda belajar di SD? Usia kah? Kepandaian calistung (membaca - menulis - berhitung) kah?


Memang ada beberapa indikator penting untuk menilai kesiapan ananda belajar di SD. Hal-hal berikut merupakan prasyarat yang harus dimiliki agar ananda berhasil dalam belajar:

1. Perkembangan fisik, perkembangan motorik, dan kemandirian: Apakah perkembangan motorik ananda sesuai dengan usianya? Bagaimana koordinasi motoriknya ketika bermain di playground? Cukup mandirikah ananda? Mampukah dia menolong dirinya sendiri dalam hal-hal sederhana seperti membuka dan mengenakan sepatu, mengeluarkan bekal, makan sendiri, memasukkan kembali kotak bekal ke dalam tas? Bugarkah fisiknya, sanggupkah dia menjalani waktu belajar yang lebih panjang?

2. Kematangan sosial dan emosional : Bagaimana sosialisasi ananda? Apakah dia mulai bisa bermain secara kooperatif dengan kawannya? Bagaimana sosialisasinya dengan orang dewasa? Mampukah dia mengungkapkan kebutuhan dirinya serta mengontrol impulsnya?


3. Sikap dan minat belajar : Apakah ananda menunjukkan keingintahuan dalam belajar? Bagaimana dengan minatnya, sudahkah ia mulai tertarik pada beragam hal atau masih terpaku pada satu dua hal yang diminatinya saja? Sejauh mana ia bisa berkonsentrasi? Bisakah dia memahami dan mengikuti instruksi sederhana?

4. Komunikasi dan penggunaan bahasa : Apakah ananda mampu mengekspresikan dirinya? Dapatkah ia menuliskan namanya dan mengenali semua huruf dalam alfabet? Apakah dia tertarik pada buku dan "terlibat" saat "membaca"?

5. Kognisi dan pengetahuan umum : Bisakah ia mengenali warna dan nama-nama bentuk dasar? Dapatkah ia menghitung sampai 10? Apakah dia mampu bermain simbolis, misalnya bermain "pura-pura", menggunakan imajinasi dan membuat "cerita"?

Kemampuan membaca, menulis dan berhitung bukan indikator yang tepat. Malahan sebenarnya belajar membaca dan menulis adalah porsi belajar di kelas 1 SD, bukan di TK. Selama TK, ananda memang perlu belajar dan mematangkan keterampilan pra-membaca-menulis seperti mematangkan keterampilan motorik halus, belajar cara memegang pensil yang benar (pencil grip), mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan, dll. Semua itu perlu dimatangkan agar ananda dapat belajar membaca dan menulis dengan mudah.

Namun demikian, setiap individu berbeda. Bila ananda sudah siap, tentu tidak ada salahnya ia belajar membaca dan menulis di TK. Kenapa tidak? Yang penting, jangan dipaksakan. Bila itu terjadi, malah dapat memadamkan keinginan dan kesukaan dalam belajar. Sayang kan kalau sampai begitu!

Pengalaman menunjukkan, siswa kami yang waktu masuk kelas 1 sama sekali belum bisa membaca dapat belajar dengan cepat. "Awal masuk sekolah anak kami belum bisa baca sama sekali, dan takut melihat buku. Dalam 3 bulan dia sudah bisa membaca
dan bahkan senang membaca . Ada buku atau majalah, apa saja, semua dia baca," demikian ungkap Ibu Lola Purwanto mengomentari kemajuan putri pertamanya.


Jadi, silakan Ayah dan Bunda membangun kesiapan ananda dalam lima area di atas tadi. Kemandirian, kematangan sosial - emosional, kemampuan memfokuskan perhatian , serta adanya minat dan keingintahuan dalam belajar akan menjadikan belajar di SD sebuah tantangan yang menarik tetapi realistis bagi ananda.
sumber:
http://gemalaananda.multiply.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar