Kamis, 12 Maret 2009

Buka Kran Pendidikan Bahasa Asing

Pontianak,- Era pasar bebas menuntut sumber daya manusia yang berkualitas. Generasi muda pun dituntut mampu menguasai bahasa asing. Lembaga pendidikan informal mencoba menjawab tuntutan itu. Pemerintah juga dituntut tidak menutup kran terhadap pendidikan bahasa asing. Lantas bagaimana ketertarikan generasi muda untuk belajar bahasa asing tersebut.



Laporan Budi Miank, Pontianak



Kendati tidak ada penelitian konkrit, namun lembaga pendidikan informal menyatakan kesadaran generasi muda terhadap bahasa asing cukup meningkat. Hanya saja, kualitas tenaga pengajar bidang bahasa asing ini masih rendah. "Minat generasi muda bertambah. Apalagi Kota Pontianak menjadi bagian masyarakat internasional yang mau tidak mau harus menerima desakan penguasaan bahasa asing itu, terutama bahasa inggris dan mandarin," ujar Praktisi Pendidikan Indonesia, Drs Hanafi Yahya SH PhD kepada Pontianak Post, Sabtu (20/3) siang.

Ia didaulat menjadi pembicara dalam seminar mengenai pendidikan bahasa asing, yang digelar oleh Institut Pusat Bahasa dan Bimbingan Belajar "Bryan Anthony" Pontianak di Kompleks Pontianak Mall Pontianak. Seminar diikuti sejumlah guru-guru privat sehingga penguasaan pembelajarannya dapat dilakukan secara optimal.

Setidaknya dua bahasa asing, Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, harus dikuasai generasi muda di daerah ini. Apalagi Bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa bisnis kedua di dunia setelah Bahasa Inggris. Ini harus diakui kedua bahasa ini paling banyak diguanak dalam dunia bisnis. Bahkan beberapa negara di dunia telah mengharuskan warganya menguasa dua bahasa tersebut. "Survei perekrutan eksekutif muda di beberapa negara maju. Mereka yang menguasai kedua bahasa itulah yang menjadi prioritas dalam penerimaan dari perekrutan tersebut," katanya.

Ia melihat di era orde baru pendidikan bahasa asing cenderung dikerangkeng. Karenanya, pemerintah tidak lagi menutup pintu mengenai penggunaan bahasa asing, terutama bahasa inggris dan mandarin. "Seharusnya pemerintah tidak lagi menutup kran itu. Sebab, generasi muda harus bisa berkompetisi di dunia internasional. Tentunya, kita harus bisa menjadi pemain dalam dunia bisnis internasional. Makanya bahasa asing harus dikuasai," jelasnya.

Hanafi yang juga Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta itu menilai sangat tidak masuk akal, kalau pemerintah masih menghambat pendidikan bahasa asing. "Pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang mengarah pada penggunaan bahasa asing di sekolah formal tanpa harus mengabaikan bahasa lokal," katanya.

Sementara itu Principal Institut Pusat Bahasa dan Bimbingan Belajar "Bryan Anthony" Pontianak, Benni mengatakan, digelarnya seminar ini untuk memberikan pemahaman lebih kepada guru-guru privat dalam memberikan penguasaan bahasa asing, sehingga nantinya dapat menghasilkan generasi muda yang memang ahli berbahasa asing. (*)

< Era pasar bebas menuntut sumber daya manusia yang berkualitas. Generasi muda pun dituntut mampu menguasai bahasa asing. Lembaga pendidikan informal mencoba menjawab tuntutan itu. Pemerintah juga dituntut tidak menutup kran terhadap pendidikan bahasa asing. Lantas bagaimana ketertarikan generasi muda untuk belajar bahasa asing tersebut.



Laporan Budi Miank, Pontianak



Kendati tidak ada penelitian konkrit, namun lembaga pendidikan informal menyatakan kesadaran generasi muda terhadap bahasa asing cukup meningkat. Hanya saja, kualitas tenaga pengajar bidang bahasa asing ini masih rendah. "Minat generasi muda bertambah. Apalagi Kota Pontianak menjadi bagian masyarakat internasional yang mau tidak mau harus menerima desakan penguasaan bahasa asing itu, terutama bahasa inggris dan mandarin," ujar Praktisi Pendidikan Indonesia, Drs Hanafi Yahya SH PhD kepada Pontianak Post, Sabtu (20/3) siang.

Ia didaulat menjadi pembicara dalam seminar mengenai pendidikan bahasa asing, yang digelar oleh Institut Pusat Bahasa dan Bimbingan Belajar "Bryan Anthony" Pontianak di Kompleks Pontianak Mall Pontianak. Seminar diikuti sejumlah guru-guru privat sehingga penguasaan pembelajarannya dapat dilakukan secara optimal.

Setidaknya dua bahasa asing, Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, harus dikuasai generasi muda di daerah ini. Apalagi Bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa bisnis kedua di dunia setelah Bahasa Inggris. Ini harus diakui kedua bahasa ini paling banyak diguanak dalam dunia bisnis. Bahkan beberapa negara di dunia telah mengharuskan warganya menguasa dua bahasa tersebut. "Survei perekrutan eksekutif muda di beberapa negara maju. Mereka yang menguasai kedua bahasa itulah yang menjadi prioritas dalam penerimaan dari perekrutan tersebut," katanya.

Ia melihat di era orde baru pendidikan bahasa asing cenderung dikerangkeng. Karenanya, pemerintah tidak lagi menutup pintu mengenai penggunaan bahasa asing, terutama bahasa inggris dan mandarin. "Seharusnya pemerintah tidak lagi menutup kran itu. Sebab, generasi muda harus bisa berkompetisi di dunia internasional. Tentunya, kita harus bisa menjadi pemain dalam dunia bisnis internasional. Makanya bahasa asing harus dikuasai," jelasnya.

Hanafi yang juga Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta itu menilai sangat tidak masuk akal, kalau pemerintah masih menghambat pendidikan bahasa asing. "Pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang mengarah pada penggunaan bahasa asing di sekolah formal tanpa harus mengabaikan bahasa lokal," katanya.

Sementara itu Principal Institut Pusat Bahasa dan Bimbingan Belajar "Bryan Anthony" Pontianak, Benni mengatakan, digelarnya seminar ini untuk memberikan pemahaman lebih kepada guru-guru privat dalam memberikan penguasaan bahasa asing, sehingga nantinya dapat menghasilkan generasi muda yang memang ahli berbahasa asing.
sumber:
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=52379

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar