Kamis, 12 Maret 2009

Investasi Seumur Hidup Melalui Pendidikan Anak

Penting bagi orangtua merencanakan biaya pendidikan putra-putrinya di masa depan. Lembaga pendidikan nonformal tidak kalah pentingnya dengan lembaga pendidikan formal. Penting bagi orangtua mengenali bakat sang anak untuk menentukan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Syahriel Mochtar SALAH satu tugas orangtua terhadap putra-putrinya adalah membekali mereka dengan ilmu pengetahuan yang baik. Ini dilakukan agar kelak putra-putri mereka bisa menapaki hidup ini dengan aman, nyaman, dan selamat. Singkatnya, agar putra-putri mereka menjadi anak yang berguna, baik bagi dirinya, keluarganya, maupun lingkungannya. Harus diakui, sekarang, mencari pendidikan yang berkualitas itu tidak mudah. Selain biaya pendidikan yang terus membengkak, persaingan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas semakin ketat. Padahal, pendidikan berkualitas sangat menentukan masa depan seorang anak di tengah persaingan hidup yang kian ketat. Yang perlu diperhatikan para orangtua, mendidik anak itu tidak hanya dengan pendidikan formal. Pendidikan nonformal juga tak kalah pentingnya. Orangtualah yang paling tahu bakat yang dimiliki putra-putri mereka. Orangtua yang jeli dan peduli akan bakat dan kemampuan anaknya akan berusaha mengembangkan bakat anak-anak mereka melaui pendidikan-pendidikan yang sesuai. Seperti yang dilakukan Minati Atmanegara, 46 tahun, artis sinetron dan bintang iklan. Menurut Minati, kemampuan anak tidak hanya didapat dari pendidikan formal, tapi ada sisi lain dari sang anak yang perlu dikembangkan, yaitu dari bakat yang dimilikinya. Berangkat dari pendapat semacam itu, kedua anaknya pun sejak berusia tiga setengah tahun sudah dimasukkan ke dalam pendidikan nonformal. Anaknya yang perempuan dimasukkan kursus tari, sementara yang laki-laki diikutkan dalam les drum. “Kebetulan, mereka berdua menyukai bidang masing-masing,” ujar wanita berwajah oval ini kepada Kristopo dari InfoBank melalui telepon, belum lama ini. Ada hasilnya? Ya. Bahkan, kini, Cantika Ramona, anak perempuannya yang telah berusia 15 tahun, mulai masuk dapur rekaman. “Tujuan saya tidak semata mencari uang lo, tapi ingin mengasah bakat anak. Dan, kebetulan, dia serius. Siapa tahu, nanti bisa menjadi penyanyi yang profesional,” cetus Minati. Awalnya, untuk membiayai les anak-anaknya, Minati setiap bulan harus mengeluarkan uang Rp75.000 per jam. Kini, biayanya naik menjadi Rp150.000 per jam. Untuk menyiasati biaya kursus anak-anaknya, dia pun rajin menyisihkan honor yang diterimanya dari berbagai pertunjukan maupun dari main film. Menurut Oki M. Iqbal, Head of People and Process Quality Wealth Management Standard Chartered Bank, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan para orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke pendidikan formal ataupun informal. Satu, sejauh mana kemampuan orangtua membiayai pendidikan anaknya. Masalah biaya harus dipertimbangkan masak-masak, kata Oki. Biaya sekolah tiap jenjang pendidikan itu berbeda-beda, lanjut Oki. Masalah daerah pendidikan juga perlu diperhatikan. Biasanya, biaya sekolah di luar negeri relatif lebih mahal ketimbang di dalam negeri. Sebagai contoh, biaya pendidikan di Insitute of Art, San Fransisco, Amerika Serikat (AS), sebesar US$20.000 per tahun. Biasanya, untuk menyelesaikan graduate degree, seorang mahasiswa harus menempuh pendidikan selama empat tahun. Jadi, kalau ditotal, biaya yang harus dipersiapkan adalah sebesar US$20.000 kali empat tahun, tandas Oki. Itu biaya sekarang, sambung Oki. Bagaimana dengan nanti 25 tahun kemudian? Tentu, biayanya tidak sebesar itu lagi. Kemungkinan, biayanya lebih besar lagi dari angka di atas sebab adanya pengaruh inflasi. Uang US$20.000 pada masa sekarang bernilai sangat kecil jika dibandingkan dengan 25 tahun mendatang. Di sinilah pentingnya para orangtua menghitung besarnya kenaikan inflasi, khususnya yang menyangkut masalah pendidikan setiap tahun. “Sepengetahuan saya, kalau di Amerika, kenaikan berkisar 10% hingga 15% per tahun. Jadi, sejak sekarang, biaya pendidikan itu sudah bisa kita hitung,” ujar Oki. Lain lagi penuturan Tri Djoko Santoso, Chairman Financial Planning Association Indonesia (FPAI). Menurut Tri Djoko, setiap negara menerapkan pola pendidikan yang berbeda. Di Indonesia, pendidikan formal menjadi dambaan setiap orangtua, tapi di Australia sebaliknya. Di sana, justru, pendidikan nonformal yang paling diminati. Belum lama ini, lanjut Tri Djoko, malah asosiasi financial planner di Australia melaporkan hasil surveinya. Berdasarkan hasil survei, hanya 18% masyarakat Australia yang pantas masuk ke jenjang perguruan tinggi. Ini disebabkan sisanya (82%) tidak mampu membayar iuran perguruan tinggi. Kalaupun mampu membayar iuran, sang anak tidak bisa meraih nilai optimal. “Ini akan menjadi masalah di kemudian hari bagi si anak jika akan masuk bursa angkatan kerja,” tambah Tri Djoko. Itulah sebabnya, Tri Djoko kini mulai mengubah strategi perencanaan pendidikan masa depan anak-anaknya. Anak-anak Tri Djoko ternyata memiliki kemampuan yang berbeda. Menurut rekomendasi psikolog, anak pertamanya kurang suka belajar. Karena itu, sejak sekolah menengah pertama (SMP), sang anak difokukan untuk menyelesaikan pendidikan menengah dengan cepat berdasarkan kurikulum Australia. Sehingga, dia menyelesaikan pendidik setingkat SMP hanya dua tahun sebab di sana tidak ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga seperti di Indonesia. Yang ada adalah years 10 dan years 11. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Tri Djoko memasukkan anaknya ke dalam foundation selama enam bulan. Dia mengambil program diploma TV media. Tujuan Tri Djoko memasukkan anaknya ke lembaga tersebut adalah supaya setelah menyelesaikan sekolah, kerjanya jelas. “Setelah selesai sekolah, kerjanya jelas. Nantinya, setelah sang anak lulus dan kemudian bekerja. Setelah dua tahun bekerja, bisa meneruskan pendidikan S1 (strata satu) atau S2 (strata dua),” alasan Tri Djoko. Yang penting, tandas Tri Djoko, anak harus memiliki keahlian dulu agar dia bisa masuk bursa kerja. Pertimbangan Tri Djoko, anaknya sudah memotong waktu belajar beberapa tahun. Di samping itu, biaya sekolah yang dikeluarkan relatif tidak begitu mahal. Perencanaan masa depan anak keduanya
hampir sama dengan anak pertama, kendati anak keduanya ini lebih pintar. Tahun depan, setelah dia menyelesaikan sekolah menengah umum (SMU), Tri Djoko akan memasukkan anaknya ke politeknik atau program diploma luar negeri, tidak langsung mengambil program S1. Tri Djoko selalu berkeyakinan, jika seorang anak memiliki keahlian, dia akan bisa langsung bekerja. “Nanti, kalau dua atau tiga tahun kemudian ingin meneruskan sekolah, bisa lebih mudah karena dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Kalaupun minta bantuan dari orang tua, hanya sedikit,” katanya. Menurut Tri Djoko, melihat kemampuan anak jangan dari sisi formal semata yang diukur dari keberhasilan anak menyelesaikan pendidikan formal di perguruan tinggi. Tapi, skill juga harus diperhatikan. Menurut Tri Djoko, kemampuan dasar (skill base) itu berasal dari bakat sang anak. Tri Djoko mencontohkan Indra Lesmana. Sejak kecil, anak musisi jaz Jack Lesmana ini disekolahkan orangtuanya ke Australia dan ternyata Indra berhasil menyelesaikan sekolah musiknya di sana. Kini, dia menjadi musisi jaz ternama yang sering ditengarai sebagai yang terandal di Indonesia. “Dia adalah salah satu dari sekian pemusik yang berhasil melalui jalur pendidikan. Jadi, tidak semata-mata mengandalkan bakal alam,” katanya. Karena itu, Tri Djoko menganjurkan kepada para orangtua agar tidak memaksakan kehendaknya sendiri, misalnya mengharuskan anaknya masuk ke perguruan tinggi untuk mendapatkan ijazah S1 tanpa memikirkan kemampuan sang anak serta kemampuan keuangannya. “Lagi pula kalau cuma memasukkan anak ke perguruan tinggi yang kualitasnya dipertanyakan, buat apa? Kasihan sang anak. Jika lulus belum tentu bisa bekerja. Pokoknya, banyak sekali pemborosan yang dilakukan: ya waktu, ya uang dalam jumlah yang besar,” imbuhnya. Untuk biaya pendidikan anaknya sekitar tiga hingga empat tahun di Australia, misalnya, Tri Joko harus mengeluarkan uang Rp1 miliar sampai dengan Rp2 miliar. Per semester, biaya yang harus dikeluarkan Rp200 juta sampai dengan Rp250 juta. Setiap bulan, Tri Djoko harus mengirim uang ke anaknya sebesar Rp15 juta untuk biaya hidup mereka. Menurut Tri Djoko, perencanaan keuangan untuk pendidikan anak membutuhkan strategi dan kejelian sebab kalau tidak akan merugikan kedua belah pihak. Di Indonesia, menurut Tri Djoko, belum ada pola guru pembimbing atau semacam student counselor yang terdiri atas para psikolog. Di luar negeri, sambungnya, student counselor ini akan memberikan laporannya tentang bakat serta kemampuan anak setiap periode. Mereka ini akan memantau perilaku si anak sejak kelas satu hingga lulus SMU. Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi sekarang mendorong para orangtua makin serius dalam menangani masalah pendidikan anak-anaknya. Perencanaan pendidikan anak makin penting artinya bagi setiap orangtua. Kini, kesadaran para orangtua akan makna tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan terus meningkat. Tidak hanya kalangan menengah atas. Masyarakat lapisan bawah pun mengakui pentingnya tabungan pendidikan serta asuransi pendidikan.
sumber: http://www.infobanknews.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=462

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar