Kamis, 12 Maret 2009

Membangun Militansi pada Anak Usia Dini

Sering kita merasa iri terhadap orang-orang yang berhasil, baik secara finansial, pendidikan maupun pengembangan diri. Atau ketika kita bicara tentang kemajuan negara Barat dengan segala teknologi dan media informasi yang mumpuni, sekaan diri kita telah kalah jauh oleh mereka. Terlebih ketika berbicara masalah sumber daya manusia. Ketika para ahli, ilmuwan, praktisi pendidikan, dan para profesional lainnya justru banyak berasal dari negara Barat, kita juga tidak bisa mengelak akan keberadaan mereka yang telah bayak berkontribusi.

Lalu ketika masalah tersebut menjadi bahan renungan, kemudian kita berpikir dan memiliki motivasi yang tinggi agar bisa seperti mereka, tak jarang berbagi cara ingin kita lakukan. Termasuk dengan cara banyak meng-eksplore wawasan dan pengetahuan, juga dengan cara medorong anak kita menjadi orang yang kaya akan pengetahuan dan memiliki militansi yang tinggi.

Beberapa ahli pendidikan anak menyatakan bahwa usia dini (0-7 atua 8 tahun) dinamakan dengan istilah the golden age of living, yang artinya masa keemasan dalam kehidupan. Seperti yang diungkapkan Maria Montessori, seorang dokter dan antropolog wanita Italia, bahwa perkembangan anak usia dini adalah suatu proses yang berkesinambungan melalui pendidikan sebagai aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin, kemandirian, dan pengarahan diri. Dengan masa keemasan yang dimiliknya, maka setiap anak sangat potensial untuk diberi berbagai stimulus atas kemampuan yang dimilikinya. Karena dengan semakin banyaknya stimulus yang diberikan kepada anak maka perkembangan anak pun akan berlangsung dengan cepat. Maka pembinaan dan didikan orangtua terhadap anaknya akan sangat menentukan keberhasilan anak di masa yang akan datang. Jika sejak kecil anak dikenalkan pada kebiasaan hidup mandiri, maka kelak anak memiliki bekal kemandirian. Karena di dalam pendidikan ada konsep yang menyatakan bahwa bentuk perlakuan terhadap anak 4 tahun ke bawah sesuai dengan yang dilihatnya. Itulah yang akan melekat hingga dewasa. Begitupun dengan kedisiplinan, kebersihan maupun hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan anak. Dalam hal ini, tentu orangtualah yang memiliki peranan yang sangat penting. Sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya, ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS At-Tahriim : 6).

Berbicara tentang pendidikan anak usia dini sebagai penentu terhadap kepribadian anak di masa yang akan datang, dalam kaitannya dengan permasalahan umat, kiranya kita perlu memahami tugas-tugas da`wah yang diemban setiap umat. Karena bagaimanapun, proses pembekalan yang berlangsung dalam waktu yang lama dan konsisten akan terwujud sebuah kekuatan, baik fisik maupun mental.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia militansi diartikan ketangguhan di dalam berjuang menghadapi kesulitan, berjuang, dan sebagainya. Sedangkan orang yang bersemangat tinggi, penuh gairah, berhaluan keras disebut orang militan. Dalam tantangan zaman yang semakin tak terkendali, militansi merupakan modal dasar bagi kita. Militansi adalah keniscayaan. Karena dengan sikap yang tangguh, percaya diri, dan dibantu kekuatan fisik dan mental yang mumpuni akan sangat menentukan adanya nilai-nilai militan.

Salah satu ciri khas dalam menanamkan nilai pada anak adalah pemberian nuansa. Karena selain pemberian latihan secara konsisten, nuansa yang dibangun pun akan membantu anak dalam memahami apa yang dihadapinya. Sebagai contoh, ketika kita ingin anak kita menjadi seorang anak yang pandai matematika, tentu kita tidak sekadar meminta anak untuk mengisi soal penjumlahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian; tapi juga kita harus membagun nuansa yang mengarah pada pengembangan kemampuan matematikanya. Atau untuk mengenalkan nilai uang, tanamkan kebiasaan pada anak kita untuk menabung. Bahkan ketika kita kita sedang bekerja di dapur sekali pun, kita bisa mengajak anak kita untuk menghitung potongan-potongan tempe yang hendak atau sudah digoreng. Demikian pula dengan penanaman nilai-nilai militansi. Kita bisa memberikan keteladanan pada mereka nilai-nilai kedisiplinan, seperti shalat di awal waktu, tidak bangun kesiangan, meninggalkan tempat tidur dalam keadaan rapi, dan sebagainya. Selain itu kita juga mengajak anak-anak kita untuk terbiasa bertanggung jawab. Misalnya, salah seorang anak kita diminta untuk menjaga adiknya atau membantu mengerjakan PR. Atau bisa juga dengan cara pemberian tugas piket rumah secara bergiliran. Dengan demikian, anak pun akan terbiasa menghadapi amanah dan terbiasa menjalani hidup secara terprogram/terjadwal. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menumbuhkan jiwa militansi pada putra-putrinya. Pertama, manfaatkan berbagai sarana yang ada di rumah sebagai sarana belajar anak. Mulai dari kamar, kamar mandi, perabot rumah tangga, dan benda-benda lain yang ada di rumah sebetulnya bisa dijadikan wahana dan sarana pembelajaran anak. Sehingga anak tidak hanya belajar melalui jalur formal yaitu sekolah, namun juga bisa belajar bersama orangtua. Kedua, menerapakan kebiasaan-kebiasaan postitif pada anak melalui contoh dan keteladanan. Dalam hal ini salah satu karakteristik yang dimiliki anak adalah meniru atau mengidentifikasi. Jadi kalau orangtua terbiasa mencuci piring sendiri tiap selesai makan, maka anak secara tidak langsug akan menirunya. Ketiga, ciptakan suasana kondusif di keluarga yang dapat mengarah pada penanaman nilai-nilai militansi. Misalnya, disela-sela pekerjaan, sang ayah bisa memanfaatkan waktu di rumah untuk membereskan rumah, menghias taman, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang bersifat produktif. Selain itu se-sibuk apapun orangtua, anak harus tetap bisa merasakan kebersamaan, apakah itu sedang mengerjakan tugas sekolah bagi yang sudah sekolah atau ketika menonton TV sekali pun. Dan keempat, berikan stimulus pada anak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan sesuai dengan minatnya. Misalnya, bagaiamna orangtua mengajak anaknya menyenangi kegiatan menghafal Al-Quran, gemar membaca buku, toleransi terhadap teman, dan lain sebagainya.

Bila nuansa-nuansa militan sudah dikenalkan pada anak sejak dini, maka anak akan terbiasa pada hal-hal positif. Sehingga jiwa militan akan terus terbentuk pada diri mereka dan akan dibawa terus hingga ia dewasa. Tentu saja dalam hal ini orangtua perlu memiliki komitmen dan konsistensi yang kuat. Maksudnya, mendidik atau membentuk anak agar berjiwa militan tidak mungkin hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu. Namun dilakukan kapan saja dan di mana saja.
sumber:http://www.dpu-online.com/index.php?artikel/detail/5/27/artikel-27.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar