Senin, 04 Mei 2009

Indonesia Dapat Pujian Soal Sistem Pendidikan

Antropolog dari Universitas George Washington AS, Joel C Kuipers, memuji sistem pendidikan nasional yang diterapkan di Indonesia, sebab di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun tidak memiliki sistem terpadu yang mengakomodasikan pendidikan formal dan non formal sekaligus.

"Di dunia ini banyak negara, tetapi negara dengan masyarakat heterogen tidak banyak, antara lain Amerika Serikat, India dan Indonesia. Karena itu, saya tertarik dan mengadakan penelitian tentang bahasa dan perubahannya dengan responden pelajar di Pulau Sumba," katanya kepada pers di Jakarta, Jumat (9/5).

Ia mengatakan, hasil penelitian tersebut salah satunya menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia memainkan peranan penting dalam membawa perubahan pemakaian bahasa pada peserta didik.
Prof Joel menjelaskan, kedatangannya kali ini ke Indonesia karena ketertarikan terhadap pendidikan kesetaraan yang merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh sistem pendidikan di Indonesia.

"Saya mengunjungi Direktur Pendidikan Kesetaraan, ibu Ella Yulaelawati dan banyak berdiskusi dengannya tentang pendidikan kesetaraan. Saya melihat pendidikan kesetaraan yang merupakan pendidikan non formal merupakan sebuah terobosan, karena itu saya ingin menggali lebih dalam," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pendidikan kesetaraan mampu mengakomodasi unsur perbedaan dari sisi suku, agama, ras dan antar golongan serta kelompok sosial.

"Model pendidikan tersebut sangat cocok dengan masyarakat Indonesia yang heterogen dan sistem belajar dengan model kesetaraan ini tumbuh dari pengalaman dan adanya kebutuhan masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat," ungkapnya.

Joel Kuipers juga melihat pendidikan kesetaraan banyak menekankan pada relasi atau hubungan yang kuat antar kelompok masyarakat, sehingga masyarakat dari berbagai identitas dan status bisa masuk dan diterima dalam lingkungan pendidikan kesetaraan.

Ia mengatakan, sistem pendidikan nasional yang dimiliki Indonesia memang menghadapi tantangan besar, karena sistem tersebut dianut oleh seluruh masyarakat dari berbagai kawasan yang luas.

"Tetapi Indonesia berhasil menghadapi tantangan ini," katanya.

Pendidikan kesetaraan merupakan salah satu jenis pendidikan non formal yang berstruktur dan berjenjang. Pendidikan kesetaraan meliputi Program Paket A Setara SD, Paket B Setara SMP, Paket C Setara SMA.

Lulusan Program Paket A berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SD, lulusan Paket B berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SMP, dan lulusan Paket C berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SMA.

Untuk perluasan akses pendidikan non-formal kesetaraan, pemerintah telah membentuk Direktorat Pendidikan Kesetaraan.

Program pendidikan kesetaraan telah berperan penting dan sangat signifikan dalam memberikan layanan pendidikan bagi mereka yang putus sekolah, anak-anak yang kurang mampu, anak-anak dari etnis minoritas, anak-anak di daerah terpencil, anak-anak jalanan, dan peserta didik dewasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar