Selasa, 26 Mei 2009

EVALUASI POGRAM PENDIDIKAN

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN

BAB 1
KONSEP EVALUASI PROGRAM


A. PENGERTIAN PROGRAM DAN EVALUASI PROGRAM

Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa inggris). Suchman (1961 ,dalam Anderson 1975) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.
Stufflebeam (1971, dalam Fernandes 1984) mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternative keputusan.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk megumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya infromasi tersebut digunakan untuk menentukan alternative yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.
Ada dua pengertian untuk istilah program, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Menurut pengertian secara umum,program dapat diartikan sebagai rencana. Apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.

B. KAITAN ANTARA PENELITIAN DENGAN EVALUASI PROGRAM

Perbedaan mencolok penelitian dengan evaluasi program adalah:

a. Dalam kegiatan penelitian, peneliti ingin mengetahui gambaran tentang sesuatu kemudian hasilnya dideskripsikan, sedangkan dalam evaluasi program, pelaksana ingin mengetahui seberapa tinggi mutu atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data yang terkumpul dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu.

b. Dalam kegiatan penelitian peneliti dituntun oleh rumusan masalah karena ingin mengetahui jawaban dari penelitiannya, sedangkan dalam evaluasi program pelaksana ingin mengetahui tingkat ketercapaian tujuan program, dan apabila tujuan program belum tercapai sebagaimana ditentukan, pelaksana ingin mengetahui dimana letak kekurangan itu dan apa sebabnya.
Evaluasi program merupakan penelitian evaluative. Pada umumnya penelitian evaluative dimaksudkan untuk mengetahui akhir dari sebuah program kebijakan, yaitu mengetahui hasil akhir dari adanya kebijakan, dalam rangka menentukan rekomendasi atas kebijakan yang lalu, yang pada tujuan akhirnya adalah untuk menentukan kebijakan selanjutnya.

c. Ciri- Ciri Dan Persyaratan Evaluasi Program
Evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan:
a. Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi peneliti pada umumnya.
b. Dalam melaksanakan evaluasi,peneliti harus berfikir secara sistematis, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dari objek yang dievaluasi.
c. Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dari objek yang dievaluasi perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai factor penentu bagi keberhasilan program.

d. Menggunakan standar, kriteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh untuk mengambil kesimpulan.

e. Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria atau tolak ukur.

f. Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagaimana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indicator komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indicator dari program yang dievaluasi.
g. Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indicator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

d. Manfaat Evaluasi Program
Dalam organisasi pendidikan, evaluasi program disamaartikan dengan kegiatan supervisi. Secara singkat, supervisi diartikan sebagai upaya mengadakan peninjauan untuk memberikan pembinaan maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula.

Program adalah rangkaian kegiatan sebagai realisasi dari suatu kebijakan. Apabila suatu program tidak dievaluasi maka tidak dapat diketahui bagaimana dan seberapa tinggi kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana. Informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program, karena dari masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan

Wujud dari hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk pengambilan keputusan. Ada empat kemungkinan kebijakan dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan, yaitu:
1. Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut tidak ada manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana diharapkan.
2. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan.
3. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.
4. Menyebarluaskan program, karena program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi ditempat dan waktu yang lain.

e. Evaluator Program
Untuk dapat menjadi evaluator, seseorang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik.
b. Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi.
c. Objektif, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti.
d. Sabar dan tekun. Agar dapat melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal, menyusun instrument, mengumpulkan data, menyusun laporan, tidak gegabah dan tergesa-gesa.
e. Hati –hati dan bertanggung jawab, yaitu melakukan pekerjaan evaluasi dengan penuh pertimbangan, namun apabila mash ada kekeliruan yang diperbuat, berani menanggung resiko atas segala kesalahannya.
Tidak semua orang dapat menjadi evaluator. Ada dua kemungkinan asal (darimana) orang untuk dapat menjadi evaluator program ditinjau dari program yang akan dievaluasi.

BAB 2

PENGEMBANGAN KRITERIA DALAM EVALUASI PROGRAM

A. Pengertian Kriteria

Istilah kriteria dalam penilaian sering juga dikenal dengan kata “tolak ukur” atau standar”. Kriteria adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal untuk sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal untuk sesuatu yang diukur.
Permasalahan didalam kriteria evaluasi program adalah aturan tentang bagaimana menentukan peringkat-peringkat kondisi sesuatu atau rentangan-rentangan nilai, agar data yang diperoleh dapat dipahami oleh orang lain dan bermakna bagi pengambil keputusan dalam rangka menentukan kebijakan lebih lanjut.

B. MENGAPA PERLU ADA KRITERIA?

Kriteria atau tolak ukur perlu dibuat oleh evaluator karena evaluator terdiri dari beberapa orang yang memerlukan kesepakatan di dalam menilai.
Ada beberapa alasan yang lebih luas dan dapat lebih dipertanggungjawabkan, yaitu:
1.Dengan adanya kriteria atau tolak ukur, evaluator dapat lebih mantap dalam melakukan penilaian terhadap objek yang akan dinilai karena ada patokan yang diikuti.
2.Kriteria atau tolak ukur yang sudah dibuat dapat digunakan untuk menjawab atau mempertanggungjawabkan hasil penilaian yang sudah dilakukan, jika ada orang yang ingin menelusuri lebih jauh atau ingin mengkaji ulang.
3.Kriteria atau tolak ukur digunakan untuk mengekang masuknya unsur subjektif yang ada pada diri penilai. Dengan adanya kriteria maka dalam melakukan evaluasi, evaluator dituntun oleh kriteria, mengikuti butir demi butir, tidak mendasarkan diri atas pendapat pribadi (yang mungkin sekali “dikotori” oleh seleranya).
4.Dengan adanya kriteria atau tolak ukur maka hasil evaluasi akan sama meskipun dilakukan dalam waktu yang berbeda dan dalam kondisi fisik penilai yang berbeda pula. Misalnya penilai sedang dalam kondisi badan yang masih segar atau dalam keadaan yang lelah hasilnya akan sama.
5.Kriteria atau tolak ukur memberikan arahan kepada evaluator apabila banyaknya evaluator lebih dari satu orang orang. Kriteria atau tolak ukur yang baik akan ditafsirkan sama oleh siapa saja yang menggunakannya.

C. Dasar Pembuatan Kriteria

Yang dimaksud dengan istilah “dasar” dalam pembuatan standar atau kriteria adalah sumber pengambilan kriteria secara keseluruhan. Dengan pengertian bahwa kriteria adalah suatu ukuran yang menjadi patokan yang harus dicapai maka kriteria tersebut harus “top” kondisinya.

1.Sumber Pertama
Apabila yang dievaluasi merupakan suatu implementasi kebijakan maka yang dijadikan sebagai kriteria atau tolak ukur adalah peraturan atau ketentuan yang sudah dikeluarkan berkenaan dengan kebijakan yang bersangkutan. Apabila penentu kebijakan tidak mengeluarkan ketentuan secara khusus maka penyusun kriteria menggunakan ketententuan yang pernah berlaku umum yang sudah dikeluarkan oleh pengambil kebijakan terdahulu dan belum pernah dicabut masa berlakunya.
2.Sumber kedua
Dalam mengeluarkan kebijakan biasanya disertai dengan buku pedoman atau petunjuk pelaksanaan (juklak). Di dalam juklak tertuang informasi yang lengkap, antara lain dasar pertimbangan dikeluarkannya kebijakan, prinsip, tujuan, sasaran, dan rambu-rambu pelaksanaannya. Butir –butir yang tertera didalam nya, terutama dalam tujuan kebijakan, mencerminkan harapan dari kebijakan. Oleh karena itu, pedoman atau petunjuk pelaksanaan itulah yang distatuskan sebagai sumber kriteria.
3.Sumber ketiga
Apabila tidak ada ketentuan atau petunjuk pelaksanaan yang dapat digunakan oleh penyusun sebagai sumber kriteria maka penyusun menggunakan konsep atau teori-teori yang terdapat dalam buku-buku ilmiah.
4.Sumber keempat
Jika tidak ada ketentuan, peraturan atau petunjuk pelaksanaan, dan juga tidak ada teori yang diacu, penyusun disarankan untuk menggunakan hasil penelitian.
5.Sumber kelima
Apabila penyusun tidak menemukan acuan yang tertulis dan mantap, dapat minta bantuan pertimbangan kepada orang yang dipandang mempunyai kelebihan dalam bidang yang sedang dievaluasi sehingga terjadi langkah yang dikenal dengan expert judgment.
6.Sumber keenam
Apabila sumber acuan tidak ada,sedangkan ahli yang dapat diandalkan sebagai orang yang lebih memahami masalah dibanding penyusun juga sukar dicari atau dihubungi maka penyusun dapat menentukan kriteria secara bersama dengan yang akan dievaluasi.
7.Sumber ketujuh.
Dalam keadaan yang sangat terpaksa karena acuan tidak ada, ahli juga tidak ada, sedangkan untuk menyelenggarakan diskusi terlalu sulit maka jalan terakhir adalah melakukan pemikiran sendiri.

BAB 3

MODEL DAN RANCANGAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN


A. BERBAGAI MODEL EVALUASI PROGRAM

Ada beberapa ahli evaluasi program yang dikenal sebagai penemu model evaluasi program adalah Stuffelebeam, Metfessel, Michael Sccriven, Stake dan Glaser. Kaufman dan Thomas membedakan model evaluasi menjadi delapan,yaitu:
1. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.
2. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
3. Formatif Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
4. Countenance Evaluation Model, dikembangak oleh Stake.
5. Responsive Evaluation Model,dikembangkan oleh stake.
6. CSE-UCLA Evaluation model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan.
7. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam.
8. Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.

B. KETETAPAN PENENTUAN MODEL EVALUASI

1) Makna Ketetapan Model Evaluasi bagi Program yang Dievaluasi.

Sesuai dengan bentuk kegiatannya, program dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu
a.program pemrosesan.
Yang dimaksud dengan program pemrosesan adalah program yang kegiatan pokoknya mengubah bahan mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai hasil proses atau keluaran (output).
b.Program Layanan.
Yang dimaksud dengan program layanan adalah sebuah kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu sehingga merasa puas sesuai dengan tujuan program.
c.Program umum.
Tidak seperti pada program jenis pemograman dan layanan yang dengan jelas dapat dikenali jenisnya Karena ada masukan input yang diolah menjadi keluaran output, dan pada program layanan ada “raja” yang dilayani, pada program jenis ketiga justru tidak tampak apa yang menjadi cirri utama. Oleh karena itu, program ini disebut juga dengan program umum.

2).Model Evaluasi yang Tepat untuk Program Pemrosesan.

a. Model Goal Evaluation untuk Program Pemrosesan.
Berorientasi pada tujuan yaitu sebuah model evaluasi yang menekankan peninjauan pada tujuan sejak awal kegiatan dan berlangsung secara berkesinambungan.
b.Model Goal Free Evaluation untuk Program Pemrosesan
Model ini menjelaskan bahwa dalam tata kerjanya tidak boleh terlalu rinci bila menekankan evaluasi pada pencapaian tujuan.
c.Model Formative-Summative Evaluation untuk Program Pemrosesan.
Model evaluasi formatif-sumatif sesuai untuk mengevaluasi program pemrosesan. Evaluasi formatif dapat dilaksanakan pada penggalan kegiatan, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada hasil program.
d. Model Deskripsi Pertimbangan untuk Program Pemrosesan.
Model ini menekankan pada dua langkah pekerjaan evaluasi, yaitu deskripsi, kemudian berdasarkan hasil deskripsi evaluator melakukan pertimbangan, membandingkannya dengan kondisi yang diharapkan.
e. Model Evaluasi CSE-UCLA untuk Program Pemrosesaaan.
Evaluasi model ini tertuju pada empat tahapan proses, yaitu perencanaan, proses, formatif, dan sumatif.

f. Model Evaluasi CIPP untuk Program Pemrosesan.
Model ini sangat tepat dan cocok digunakan untuk mengevaluasi program pemrosesan. Demikian juga dengan CIPPO yang dituntut oleh outcome(S)-nya.
g. Model Evaluasi kesenjangan untuk Program Pemrosesan.
Model kesenjangan dapat digunakan untuk mengevaluasi semua jenis program. Yang menjadi dasar dalam evaluasi program adalah menilai kesenjangan. Dengan demikian tanpa perlu menganalisis pihak-pihak yang dipasangkan kita segera dapat menyimpulkan bahwa model evaluasi kesenjangan dapat diterapkan untuk mengevaluasi program pemrosesan.

3).Model Evaluasi yang Tepat untuk Program Layanan..

a.Model Goal Oriented Evaluation untuk Program Layanan.
Model evaluasi berorientasi pada tujuan dan dilakukan sejak awal proses kegiatan secara berkesinambungan.
b.Model Goal Free Evaluation untuk Program Layanan.
Model evaluasi bebas, tujuan dapat diterapkan, atau tepat digunakan untuk program layanan.
c.Model Formative-Summative Evaluation untuk Program Layanan.
Evaluasi program dilaksanakan sejak awal hingga akhir program secara berkesinambungan. Evaluasi formatif dan summative merupakan dua jenis kegiatan evaluasi yang dapat dikatakan merupakan cuplikan dari proses evaluasi berkesinambungan. Model evaluasi formatif dan summative tepat atau cocok untuk program layanan.
d.Model Deskripsi Pertimbangan untuk Program Layanan.
Model evaluasi deskripsi pertimbangan menekankan kegiatan evaluasi pada objek sasaran deskripsi komponen program, kemudian dianalisis dengan pertimbangan kriteria yang ditentukan.
e.Model Evaluasi CSE-UCLA untuk Program Layanan.
Model evaluasi CSE-UCLA mengarahkan sasaran evaluasi program pada empat komponen yang keempatnya merupakan dan menunjukkan suatu proses.
f.Model Evaluasi CIPP untuk Program Layanan.
Model CIPP menunjukkan sebuah proses dalam program.
g.Model Evaluasi Kesenjangan untuk Program Layanan.
Model evaluasi kesenjangan memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan model“luwes”karena dapat, dan bahkan harus digunakan pada semua jenis program.

4). Model Evaluasi yang Tepat untuk Program Umum

C. RANCANGAN EVALUASI PROGRAM

Dalam setiap kegiatan penting dan ilmiah sebaiknya memang ada rancangan jika dikaitkan dengan model evaluasi, rancangan evaluasi dibuat berdasarkan model yang sudah dipilih.
1. Sekilas tentang rancangan evaluasi
Hal –hal yang tecantum dalam rancangan evaluasi adalah
a. Judul kegiatan
Menyebutkan isi pokok kegiatan evaluasi yang mencantumkan nama kegiatan, program apa yang dievaluasi (atau bagian dari program), dan dapat juga mencantumkan model yang digunakan serta menyebutkan unit dan lokasi program.
b. Alasan dilaksanakan evaluasi.
Menjelaskan adanya kebijakan tentang program yang menjadi objek sasaran.
c. Tujuan
Ada dua bentuk tujuan, umum dan khusus. Dalam tujuan khusus disebutkan secara rinci target yang harus dicapai dalam evaluasi
d. Pertanyaan evaluasi
Merumuskan beberapa pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan evaluasi.
e. Metodologi yang digunakan.
Menjelaskan tentang objek sasaran evaluasi yang dihasilkan dari identifikasi komponen program dan indicator, sumber data, dan metode yang digunakan, instrument yang digunakan sebagai pelengkap metode pengumpul data.
f. Prosedur kerja dan langkah-langkah kegiatan.
Berdasarkan judul materi ini, maka terdapat dua hal yang perlu dipahami, yaitu (A) prosedur kerja,dan (b) langkah-langkah kerja.
2. Rancangan untuk program pemrosesan.
Ciri utama dari program pemrosesan adalah adanya komponen yang dapat distatuskan sebagai bahan mentah dan masukan yang diproses dalam sebuah transformasi sebagai alat pengolah, serta diupayakam menjadi keluaran yang berkualitas tinggi.
3. Rancangan evaluasi untuk program layanan.
4. Rancangan untuk program umum.

BAB 4

PERENCANAAN EVALUASI PROGRAM

A. ANALISIS KEBUTUHAN

1. Pengertian Analisis kebutuhan.

Menurut pendapat Roger Kaufman dan Fenwick W, analisis kebutuhan tidak dapat melepaskan diri dari pembicaraan system pendidikan secara keseluruhan. Menurut Stufflebeam, yang mendasarkan pembicaraan pada empat unsur evaluasi, yaitu konteks, masukan, proses, dan produksi (hasil). Jika empat unsur itu yang diutamakan, berarti kita arahkan perhatisn kita pada dua pokok dalam system pendidikan, yaitu manajemen dan kurikulum. Roger Kaufman dan Fenwick W.English mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya. Dalam hal ini kebutuhan diartikan sebagai jarak antara keluaran nyata dengan keluaran yang diinginkan untuk memperoleh keluaran dan dampak yang diinginkan.

1. Peran analisis kebutuhan.
Analisis kebutuhan adalah alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan perubahan. Yang dimaksud dengan perubahan disini bukanlah perubahan yang radikal dan tidak mendasar, tetapi perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional, perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan warga Negara, kelompok, dan individu. Perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara “seperti apa yang ada “dengan”bagaimana seharusnya”.

Untuk melakukan tugas pendidikan dengan baik seyogyanya seorang guru tahu pasti tentang alat dan tujuan. Dengan memahami tujuan maka akan tepat dalam memilih alternative alat untuk. Mencapainya. Gagal mengidentikfikasi “apa” yang akan dicapai sebelum menentukan “bagaimana”mencapainya dengan resiko sesedikit mungkin, dengan biaya sehemat mungkin, akan gagal pula mencapai sukses secara optimal. Analisis kebutuhan merupakan seperangkat alat dan teknik formal, serta cara untuk mencermati dunia secara lebih ilmiah karena memandang alat dan tujuan dalam satu perspektif kesatuan yang bermakna.

2. Langkah pelaksanaan analisis kebutuhan.

Makna analisis kebutuhan menunjukkan adanya proses mengenai, memilah, dan menyisihkan. Dalam melalui langkah-langkah tersebut sebenarnya pelaku tidak mungkin melepaskan diri dari pekerjaan mengukur dan menilai sesuatu. Untuk menentukan hasil mengenai, memilah, dan menyisihkan ada proses membandingkan gejala yang sedang dikenali dan dipilih dengan suatu patokan (meski tidak secara jelas disadari).
Menurut Andersons (1975), secara umum keluasan atau besarnya kebutuhan dapat diukur dengan dua macam cara, yaitu secara subjektif dan objektif. Pengukuran secara subjektif terjadi apabila pelaku membandingkan sesuatu kebutuhan dengan kondisi yang dapat diterima olehnya. Di lain hal, p-engukuran secara objektif terjadi apabila kebutuhan sesuatu dibidang yang terkait dan sesuai dengan bidang yang akan dievaluasi.
Tentang bagaimana cara dan penahapan dalam melakukan penilaian kebutuhan dijelaskan oleh Anderson seperti dibawah ini.
a. Penilaian Kebutuhan secara objektif :
1. Mengidentifikasi lingkup tujuan –tujuan penting dalam program yang akan dievaluasi.
2. Menentukan indicator dan cara pengukuran tujuan –tujuan .
3. Menyusun kriteria (standar) untuk tiap-tiap indicator, dengan acuan pedoman atau acuan apa saja yang ada dalam system dan bidang yang dievaluasi.
4. Menyusun alat pengukur untuk tiap-tiap indicator.
5. Membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria. Jika data yang diperoleh lebih rendah dari tingakt standar, maknanya berarti ada kebutuhan.
b. Penilaian kebutuhan secara subjektif :
1. Mengidentifikasi tujuan penting dalam program yang akan dievaluasi.
2. Menentukan pilihan kriteria atau menyusun kriteria yang sesuai dengan setiap tujuan masing-masn-ing dibidang dan indicator. Dalam langkah ini evaluator perlu mengumpulkan banyak bukti formal yang akan digunakan untuk dasar pertimbangan kebutuhan.
3. Menyusun skala bertingkat yang digunakan untuk mempertimbangkan tingkat penampilan indicator.
4. Jika sudah selesai membuat skala, kumpulkan semua calon evaluator untuk bersama-sama menentukan urutan kebutuhan dan skala prioritas kebutuhan. Jika kebetulan terdapat dua kebututuhan yang sejajar, diperlukan lagi kesepakatan untuk menentukan mana kebutuhan yang lebih mendesak untuk diprioritaskan dalam penyelesaiannya.

B. MENYUSUN PROPOSAL EVALUASI PROGRAM

Cronbatch (1982) dan Patton (1982) mengemukakan beberapa prinsip umum yang ada pada evaluasi program sebagai berikut:
a. Evaluasi program adalah suatu seni. Tidak ada satupun saran untuk rancangan yang paling cocok bagi kegiatan evaluasi, tetapi untuk evaluasi program sebaiknya tidak menggunakan rancangan eksperimen.
b. Evaluator program tidak memiliki wewenang dalam memutuskan hasil program, tetapi sekedar memberikan bantuan data atau informasi kepada pengambil keputusan.
c. Tidak seorangpun diantara evaluator program berhak memberikan pertimbangan kepada pengambil keputusan.
d. Tidak seorang pun diantara evaluator program berhak memberikan pertimbangan kepada pengambil keputusan. Evaluasi program adalah tanggung jawab sebuah tim.
e. Rancangan evaluasi program bukanlah sesuatu yang sifatnya kaku dan statis melainkan merupakan sesuatu yang berproses, yaitu fleksibel, dapat dimodifikasi, dan dapat diperbaiki selama dalam proses kebutuhan.
f. Sebuah program pendidikan bukan hanya perlakuan tunggal, tetapi juga jamak. Sebagai contoh kegiatan membaca. Meskipun tampaknya hanya “pelajaran membaca”, tetapi memiliki banyak dimensi, antara lain dan anak yang sedang membacanya.
g. Aspek afektif dan psikomotorik sebaiknya tidak dihindari dalam proses pengumpulandata; perlu adanya keseimbangan antara data aspek kognitif, afektif, psikomotorik.
Mengevaluasi program sebaiknya tidak hanya memusatkan sasaran perhatian pada hasil atau dampak saja, tetapi semua gejala proses pelaksanaan perlu ditelusuri.
1. Pengertian dan Status Proposal dalam Evaluasi Program
Proposal adalah sebuah rencana kerja yang menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi program. Melaksanakan evaluasi program berarti melakukan suatu kegiatan yang sifatnya kompleks. Sebelum mulai melakukan pekerjaan, pelaku sebaiknya memiliki gambaran yang jelas tentang latarbelakang atau alasan yang mendorong untuk melakukan evaluasi, target yang harus dicapai, apa saja yang harus diukur, dan lain sebagainya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa pelaku evaluasi program tidak harus orang yang menyusun proposal.
1. Cara Menyusun Bagian Pendahuluan
1. Pada umumnya, garis besar isi pendahuluan adalah (1)
Latar belakang masalah, (2) identifikasi masalah dan pembatasan masalah, serta pertanyaan evaluasi, (3) tujuan umum dan tujuan khusus, dan (4) manfaat hasil evaluasi.
a. Aturan Penulisan Latar Belakang Masalah.
Yang temuat dalam latar belakang masalah adalah hal-hal yang mendasari lahirnya kegiatan, hal-hal yang mendorong atau alasan dilaksanakannya evaluasi program. Alasan tersebut harus betul-betul kuat, tidak mengada-ada sehingga memberikan gambaran kepada pembaca bahwa kegiatan evaluasi program yang akan dikerjakan memang betul-betul perlu dilaksanakan.
b. Aturan Penulisan Pertanyaan Evaluasi Program
Berikut ini model pertanyaan yang biasanya muncul dalam evaluasi program:

Tentang Dampak atau Pengaruh
• Apakah perilaku/aktivitas/orang-orang berubah akibat dari program yang dijalankan?
• Siapa yang diuntungkan dan bagaimana?
• Apakah semua partisipan program puas dengan apa yang mereka dapat dari program tersebut.
• Apakah capaian program yang didapat sebanding dengan sumber daya yang di investasikan?
• Apa yang bias orang pelajari, dapatkan, dan capai dari hasil programm tesebut?
• Apa dampak program ditinjau dari segi social, ekonomis, dan lingkungan (baik positif ataupun negative) terhadap orang, masyarakat, dan lingkungan?
• Apa kekuatan dan kelemahan dari program?
• Kegiatan apa dari program yang paling banyak atau sedikit berkontribusi terhadap pencapaian tujuan program?
• Jika ada, apa pengaruh tak langsung, baik positif atau negative dari program?
• Seberapa baik program mampu merespon kebutuhan?
• Seberapa efisienkan sumberdaya digunakan dalam pencapaian tujuan program

Tentang Implementasi Program
• Terdiri dari aktivitas atau even apakah program yang akan/sedang/telah berjalan itu?
• Metode apa yang digunakan dalam menjalankan program?
• Siapa yang sebenarnya menjalankan program dan seberapa baik mereka melakukannya?
• Siapa yang berpartisipasi dan dalam aktivitas apa? Apa semua pihak yang telibat memiliki akses yang adil terhadap program?
• Sumber daya dan input apakah yang di investasikan dalam program?
• Apakah sumber daya keuangan dan manusia tersedia dengan cukup?

Tentang Konteks Program
• Seberapa baik program sesuai dengan keadaan setempat? Misalnya dengan tingkat pendidikan dan kemampuan belajar, kondisi social/ekonomi sasaran target.
• Seberapa besar kondisi ekonomi-politik-sosial yang ada berkontribusi atau memengaruhi keberhasilan program.
• Bagaimana keadaan wilayah/tempat program itu dijalankan, adakah itu setting yang bias diubah?
• Adakah pihak lain yang melakukan hal yang sama seperti apa yang ingin dicapai oleh program yang sedang dijalankan itu? Adakah duplikas?
• Siapa pendukung dan penghalang kesuksesan pencapaian program?

Tentang Kebutuhan Program
• Kebutuhan-kebutuhan apa saja yang bias di identifikasi melalui program?
• Bagaimanakah karakteristik dari populasi target program?
• Apa yang selama ini telah dijalankan terkait dari populasi target program?
• Asset apakah yang ada di konteks program dan kelompok target yang bisa dikembangkan.
• Apa yang selama ini telah dijalankan terkait dengan pelaksanaan program?
• Perubahan apa yang dianggap sasaran target memungkinkan atau sangat perlu?
• Apakah program yang dijalankan sudah tepat?

c. Aturan Perumusan Tujuan Evaluasi Program

Dalam melakukan evaluasi, Taylor-Powell, dkk(1996) mengidentifikasikan beberapa dimensi umum yang biasanya ingin digali dalam tujuan evaluasi suatu program, yaitu:

a. Dampak atau pengaruh program. Dalam dimensi ini, evaluator akan mengkaji seberapa jauh program yang akan, sedang, atau telah dijalankan memiliki konsekuensi terhadap konteks, partisipan, subjek, system, atau lainnya.
b. Implementasi program. Evaluator melakukan kajian terhadap seberapa jauh pelaksanaan program ini akan sedang dijalankan.
c. Konteks program. Evaluator mengamati dan mengkaji kondisi konteks (lingkungan) dari program yang akan, sedang, dan telah dijalanka, seberapa jauh keterkaitannya,dan apa sajakah konteknya.
d. Kebutuhan program. Evaluator mengkaji tentang factor-faktor penentu keberhasilan program dan keberlanjutannya di masa yang akan dating.

1. Cara Menuliskan Bagian Metode Evaluasi Program
Metode adalah kumpulan metode yang berkenaan dengan kegiatan yang dilakukan. Metode evaluasi program, karena kegiatannya tidak lain penelitian maka sama dengan metode yang lazim terdapat dalam penelitian. Secara garis besar ada 4 hal yang perlu diatur dengan
metode tertentu dalam langkah evaluasi, yaitu: (1) penentuan responden atau subjek sumber data, (2) metode pengumpulan data, (3) penentuan alat atau instrument dan ,(4) analisis data.

a. Penentu Responden atau Sumber data.
Dalam setiap penelitian (dalam hal ini) evaluasi), kita harus berfikir sedarhana mengenai (1) apa objek yang dievaluasi (indicator),(2) dari mana Informasi tentang objek tersebut dapat diperoleh (sumber data),dan (3) dengan cara .apa informasi tersebut dapat diperoleh(metode pengumpulan data).
Yang dimaksud dengan sumber data adalah segala sesuatu yang menunjuk pada asal data yang diperoleh.
b. Metode Pengumpulan Data
Evaluasi program adalah penelitian maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi program sama dengan metode pengumpulan data dalam penelitian. Jenis metode yang dimaksud adalah angket, wawancara (interview), pengamatan (observasi), tes, dokumentasi dan inventori.
c. Penentuan Instrumen Pengumpul Data

Dalam usaha mengumpulkan data, instrument berfungsi untuk mempermudah., memperlancar, dan membuat pekerjaan pengumpul data menjadi lebih sistematis.
Untuk melakukan penelaahan terhadap dokumen, evaluator juga memerlukan instrument berupa panduan berisi hal-hal penting tentang data yang akan dikumpulkan. Panduan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk daftar hal atau table.
Sebagai contoh, jika evaluator akan menilai notulen rapat maka hal-hal yang perlu digali antara lain :
1. Hari/tanggal rapat;
2. Pimpinan rapat;
3. Banyaknya peserta rapat;
4. Acara atau isi pembicaraan;
5. Kesimpulan atau isi rapat;
6. Rencana tindak lanjut.

C. MEMBUAT ALAT ATAU INSTRUMEN EVALUASI PROGRAM

Menyusun instrument merupakan pekerjaan yang penting, tetapi memang agak rumit. Itulah sebabnya penyusun dituntut memiliki kemampuan yang memadai seperti yang disyaratkan. Dengan modal kemampuan tersebut penyusun akan melangkah dengan pasti, meneliti prosedur yang harus dilalui didalam menyusun instrument yang tepat bagi para petugas evaluasi program.

Langkah –langkah dimaksud adalah sebagai berikut:
-Mengidentifikasi komponen program dan indikatornya;
-Membuat kisi-kisi kaitan antara indicator, sumber data, metode pengumpulan data dan instrument;
-Menyusun butir-butir instrument;
-Menyusun kriteria penilaian;
-Menyusun pedoman pengerjaan.

1. Identifikasi Sasaran Sebagai Objek Evaluasi
Komponen sebagai unsur program seringkali tidak mencukupi kebutuhan untuk mengenal kekuatan dan kelemahan program secara keseluruhan. Oleh karena itu, komponen program masih harus dirinci lebih jauh menjadi subkomponen yang biasa dikenal juga dengan istilah “indicator”. Indicator inilah yang menjadi objek sasaran evaluasi.

Walaupun bukan merupakan keharusan, untuk mengidentifikasi indicator ada petunjuk yang perlu di ikuti agar hasilnya urut dan tuntas. Petunjuk untuk identifikasi indicator yang dimaksud adalah;
a. Mulai dari yang sifatnya kuatitatif, baru kualitaif. Misalnya menilai bahan koleksi pertama dari banyaknya buku dan bahan koleksian lain, misalnya film, disket, kaset, dan lain-lain, baru sesudah itu banyaknya buku menurut jenis-masih kuantitatif karena menunjuk angka-keduanya merupakan kuantitas baru kemudian kondisi bahan-bahan koleksi yang ada, yaitu kualitas.
b. Mulai dari luar, baru mengarah kedalam. Misalnya dari keadaan gedung (besar, terlihat dari luar), kemudian menilai kamar(bagian dalam gedung), baru dilihat lebih cermat bahan dasar masing-masing ruangan. Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan cara kombinasi,yaitu melihat dari aspek kuantitatif (ukuran gedung dan ruang), baru melihat kondisi masing-masing kamar dengan memerhatikan aspek kualitatif seperti melihat lantai dari apa, dinding seperti apa, dan penerangannya bagaimana.
c. Mulai dari yang umun, baru ke khusus. Misalnya kualitas bahan koleksi secara umum(penampilan secara keseluruhan), baru kondisi masing-masing jenis bahan koleksi, dan dapat ke yang lebih khusus lagi, misalnya kualitas isi yang ditunjukkan oleh kelengkapan konsep yang disajikan, banyaknya contoh dan gambar, enaknya gaya bahasa, dan cara yang digunakan untuk menjelaskan,dan kemutakhiran.
d. Jika yang di identifikasi merupakan proses atau prosedur maka diurutkan dari permunculannya. Misalnya komponen yang dinilai kemampuan mengajar maka indikatornya urut dari proses yang terjadi, yaitu (a) membuat persiapan, (b) melaksanakan pembelajaran, dan(c) mengakhiri pelajaran.

2. Penyusunan Kisi-Kisi Instrument
Yang dimaksud dengan kisi-kisi dalam rangkaian proses penyusunan instrument adalah semacam table kolom baris yang memberikan gambaran tentang kaitan antara objek sasaran evaluasi, instrument, dan nomor-nomor butir dalam instrument.
Kisi –kisi dibuat khusus untuk instrument tertentu evaluator perlu membuat kisi-kisi yang sama banyak dengan instrument yang akan digunakan dalam kegiatan evaluasi.

3. Penyusunan Butir-Butir Instrumen
Menyusun instrument merupakan langkah kegiatan yang relative sulit akan tetapi sangat penting

BAB 5

LANGKAH – LANGKAH EVALUASI PROGRAM

A. PERSIAPAN EVALUASI PROGRAM

Sebelum evaluasi program dilaksanakan seorang evaluator harus melakukan persiapan secara cermat. Persiapan tersebut antara lain berupa penyusunan evaluasi, instrument evaluasi, validasi instrument evaluasi, menentukan jumlah sampel yang diperlukan dalam kegiatan evaluasi, dan penyamaan persepsi antarevaluator sebelum pengambilan data.
Penyusunan evaluasi terkait dengan model seperti apa yang akan diterapkan dalam melakukan kegiatan evaluasi program. Model-model tersebut dapat berupa model CIPP, model Mettfesel, and Michael, model Stake, model Kesenjangan, model Glaser, model Michael Scriven, model Evaluasi Kelawanan, dan model Need Assessment. Pemilihan model ini bergantung pada tujuan evaluasi program yang akan dilaksanakan dan kriteria keberhasilan program, sehingga dalam penyusunan evaluasi hal penting yang harus diketahui oleh seorang evaluator adalah tujuan program dan kriteria keberhasilan program.

Setelah mengetahui tujuan dan kriteria keberhasilan program maka seorang evaluator baru dapat menentukan metode penumpulan data, alat pengumpul data, sasaran evaluasi program, dan jadwal evaluasi program yang akan digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan evaluasi program. Sistematika dan/atau komponen-komponen yang harus ada dalam evaluasi program secara garis besar sebagai berikut : latar belakang masalah, problematika, tujuan evaluasi dan sampel, instrument dan sumber data.
Setelah rencana evaluasi tersusun, langkah selanjutnya adalah penyusunan instrument evaluasi. Instrument evaluasi yang disusun bergantung pada metode pengumpulan data yang dipilih. Apabila metode pengumpulan data yang dipilih adalah metode wawancara maka instrument evaluasi yang harus disusun adalah pedoman wawancara. Apabila metode pengumpulan data yang dipilih adalah metode angket maka instrument evaluasi yang harus disusun adalah angket. Apabila metode pengumpulan data yang dipilih adalah metode tes maka instrument evaluasi yang harus disusun adalah tes.

Langkah –langkah yang ditempuh dalam menyusun instrument evaluasi adalah:
1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrument yang akan disusun. Contoh: tujuan menyusun lembar pengamatan adalah untuk mengetahui aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran.
2) Membuat kisi-kisi yang berisi tentang perincian variable dan jenis instrument yang akan digunakan. Untuk mengukur bagian variable yang bersangkutan ini dikembangkan dari kisi-kisi objek yang akan dievaluasi.
3) Membuat butir-butir instrument, sesudah kisi-kisi tersusun maka langkah selanjutnya adalah membuat butir-butir instrument.
4) Menyunting instrument, hal yang dilakukan pada tahap ini melipui:
a) Mengurutkan butir menurut sistematika yang dikehendaki evaluator untuk mempermudah pengolahan data.
b) Menuliskan petunjuk pengisian, identitas dan sebagainya.
c) Membuat pengantar permohonan pengisian bagi angket yang diberikan kepada orang lain (pedoman wawancara, pedoman dokumentasi, lembar pengamatan cukup membuat identitas yang menunjukkan pada sumber data dan identitas pengisian.

Evaluasi program adalkalanya memiliki wilayah populasi yang cukup luas dan/atau banyak. Apabila hal ini terjadi, seseorang evaluator tidak mungkin menjadikan seluruh subjek dalam wilayah populasi itu menjadi sumber data karena, disamping memakan waktu lama juga memakan biaya tidak sedikit.
Metode populasi adalah metode penentuan subjek evaluasi dengan mengambil seluruh subjek yang ada menjadi sumber data.
Contoh: jika seorang evaluator ingin mengetahui kesulitan belajar matematika siswa SD NEGERI kelas 5 Kecamatan Patuk maka seluruh siswa SD NEGERI 5 Kecamatan Patuk dijadikan sebagai sumber data.
Metode sampling adalah metode penentuan subjek evaluasi dengan hanya mengambil sebagian individu yang ada dalam populasi. Contoh jika seorang evaluator ingin meneliti kselulitan belajar matematika siswa SD NEGERI 5 Kecamatan Patuk maka evaluator hanya mengambil sebagian sisa SD NEGERI 5 Kecamatan Patuk sebagai sumber data (mungkin empat SD,lima SD, dan seterusnya). Dari kedua contoh diatas maka yang disebut populasi adalah seluruh siswa SD NEGERI kelas 5 di Kecamatan Patuk dan yang disebut sampel adalah siswa SD NEGERI kelas 5 dari empat SD yang berada di kecamatan Patuk.

Ada beberapa jenis sampel, antara lain:
1) Proportional sample, mengambil sampel dari tiap subpopulasi dengan memperhitungkan besar kecilnya subpopulasi.
2) Stratifield sample, digunakan jika populasi terdiri dari kelompok-kelompok yang mempunyai susunan yang bertingkat.
3) Purposlive sample, teknik ini digunakan untuk mencapai tujuan –tujuan tertentu.
4) Quota sample, jumlah sample yang akan diteliti telah ditetapkan terlebih dahulu.
5) Double sample, atau sampel kembar, artinya dalam menetukan sampel kita kelompokkan menjadi dua keperluan –keperluan tertentu.
6) Area probability sample, membagi daerah populasi kedalam sub-sub daerah yang lebih kecil.
7) Cluster sample, hampir sama dengan area probability, tetapi dalam cluster sample satuan sampel tidak terdiri dari individu, melainkan kelompok individu atau cluster.

A. PELAKSANAAN EVALUASI PROGRAM

Evaluasi program dapat dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu evaluasi reflektif, evaluasi rencana, evaluasi proses, dan evaluasi hasil.
Evaluasi reflektif digunakan untuk mengevaluasi kurikulum sebagai suatu ide. Jenis evaluasi ini mencoba mengkaji ide yang dikembangkan dan dijadikan landasan bagi kurikulum.
Evaluasi rencana merupakan jenis evaluasi yang banyak dilakukan orang terutama setelah banyak inovasi diperkenalkan dalam pengembangan program. Evaluasi rencana dapat dilakukan dalam, baik pada waktu penulisan program setbagai suatu rencana sedang berlangsung maupun pada waktu penulisan itu telah selesai dikerjakan.

Evaluasi proses kadang-kadang disebut pula dengan istilah implementasi program. Menggunkan istilah proses dimaksudkan untuk memperkuat pengertian program sebagai suatu proses.
Evaluasi hasil merupakan jenis evaluasi program yang paling tua. Bahkan pada mulanya yang dimaksud evaluasi indentik dengan evaluasi hasil.
Keempat jenis evaluasi diatas mempengaruhi evaluator dalam menentukan metode dan alat pengumpul data yang digunakan. Agar kegiatan pengumpulan data dapat dilakukan dengan baik.

Berikut ini adalah bagaimana mengumpulkan data yang baik dengan menggunkan berbagai alat pengumpul data:
1. Pengambilan Data dengan Tes
Pengumpulan data evaluasi dengan tes dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a) Buku buku versus tutup buku
b) Tes diumumkan versus tes dirahasiakan.
c) Tes lisan atau tes tertulis.
d) Tes tindakan atau praktik.

Tes diumumkan artinya pelaksanaan tes yang telah diumumkan terlebih dulu sebelum tes diselenggarakan. Pada umumnya para ahli psikologi kurang setuju dengan penyelenggaraan tes yang tidak diumumkan terlebih dahulu (dirahasikan). Namun, pelaksanaan tes yang dirahasiakan masih dapat memenuhi tujuan tes tertentu, karena memiliki kelebihan, antara lain adalah:
a) Dapat mengukur pengetahuan siap yang dimiliki oleh testee,
b) Dapat memotvasi/meningkatkan usaha belajar secara terus menerus, dan
c) Dapat digunakan sebagai alat disiplin belajar.
2. Pengambilan Data dengan Observasi
Observasi merupakan proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari proses biologi dan psikologi. Dua diantara yang terpenting yaitu proses pengamatan dan ingatan. Pada masing-masing proses ini terkandung sumber kesesatan yang perlu mendapat perharian dengan saksama.
Terdapat tiga cara mengatasi keterbatasan tersebut, yaitu sebagai berikut.
a. Sediakan waktu yang lebih banyak agar dapat melihat objek yang kompleks dari berbagai segi, jurusan, secara berulang-ulang.
b. Menyediakan observer yang lebih banyak untuk melihat objeknya dari segi-segi tertentu dan mengintegrasikan hasil-hasil penyelidikan mereka untk memperoleh gambaran tentang keseluruhan objek.
c. Mengambil lebih banyak objek yang sejenis agar dalam jangka waktu yang tebatas dapat disoroti objek-objek itu dari segi yang berbeda-beda oleh penyelidik yang terbatas jumlahnya.
3. Pengambilan Data dengan Angket
Format dan susunan angket hendaknya menarik, menyenangkan untuk dilihat, muda dipahami maksudnya, mengundang jawaban.
4. Pengambilan Data dengan Wawancara
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara:
a. Adakan pembicaraan pemanasan dengan penuh keramahan pada permulaan wawancara,
b. Kemukakan tujuan wawancara dalam bahasa yang mudah dipahami dengan kerendahan hati dan bersahabat,
c. Hubungan pokok-pokok pembicaraan dengan perhatian responden tidak merasa tertekan baik oleh prtanyaaannya maupun oleh suasana idskitarnya.
d. Evaluator tidak boleh menunjukan sikap yang tergesa-gesa, sikap kurang menghargai jawaban, atau sikap kurang percaya.
e. Berikan dorongan kepada rsepnden yang menimbulkan kesan ia adalah orang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan suatu masalah.
5. Pengambilan Data dengan Metode Analisis Dokumen dan Artifak

Artifaks adalah objek materiil dan symbol dari kejadian masa lalu dan saat ini, kelompok, orang atau organisasi. Dengan kata lain artifaks adalah segala sesuatu yang dihasilkan ai dua jetas kecerdasan manusia.
Document terdiri dari dua jenis, pribadi dan resmi. Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Dari dokumen pribadi, peneliti bias mengumpulkan data mengenai situasi social, dan arti berbagai factor yang ada disekitar subjek penelitian yang tereksplisit maupun terimplisitkan dalam dokumen pribadi tersebut.

B. MONITORING PELAKSANAAN EVALUASI

1. Fungsi Pemantauan
Pemantauan memiliki dua fungsi pokok, yaitu untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program dengan rencana program dan untuk mengetahui seberapa pelaksanaan program yang sedang berlangsun dapat diharapkan akan menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Sumber kegagaglan program ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, pelaksanaan program menyimpang dari rencana program. Kemungkinan kedua, rencana program yang mengandung kesalahan (kesalahan asumsi atau konsep dasar,kesalahan menerjemahkan konsep) dijadikan rencana program operasional. Kemungkiana ketiga, berasal dari luar rancangan program, misalnya kendala dari jajaran birokrasi, kekurangmampuan tenaga praktisi.
2. Sasaran Pemantau
Sasaran pemantau adalah menemukan hal-hal berikut.
a. Seberapa jauh pelaksanaan program telah sesuai dengan rencana program.
b. Seberapa jauh pelaksanaan program telah menunjukkan tanda-tanda tercapainya tujuan program.
c. Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan yang positif meskipu tidak direncanakan .
d. Apakah terjadi dampak sampingan yang negative, merugikan, atau kegiatan yang mengganggu.
Temuan dampak sampingan negative dan merugiakan perlu ditindaklanjuti dengan upaya mengurangi atau meniadakannya sama sekali bila mungkin.
3. Teknik dan Aksi Pemantauan
Fungsi pokok pemantauan adalah mengumpulkan data tentang pelaksanaan program. Adapun teknik dan alat pemantau adalah sebagai berikut:
a. Teknik pengamatan partisipatif dengan menggunakan lembar pengamatan, catatan lapangan, dan alat perekam elektronik. Pengamatan partisipatif adalah bahwa pengamatan dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan program.
b. Teknik wawancara, secara bebasa atau terstruktur dengan alat pedoman wawancara dan perekam wawancara. Wawancar terstruktur adalah wawancara yag sepenuhnya dipandu oleh pedoman wawancara.
c. Teknik pemanfaatan dan analisis data dokumentasi seperti daftar hadir, satuan prlajarab, hasil karya siswa, hasil karya guru, dan sebagainya.
Pengamatan sangat cocok untuk merekam data tentang perilaku, aktivitas, dan proses-proses lainnya. Dengan pengamatan dapat direkam pula data kualitatif,
4. Pelaku Pemantauan
Pemantauan program dilakukan oleh evaluator bersama dengan pelaku/praktisi atau pelaksanaan program. Dapat pula dilengkapi atau dibantu oleh pihak lain yang diperlukan seperti kepala sekolah dan tokoh masyarakat.
5. Perencanaan pemantauan
Perencanaan pemantauan meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a. Perumusan tujuan pemantauan, berisi informasi tentang apa yang diinginkan, unutk siapa dan untuk kepentingan apa.
b. Penetapan sasaran pemantauan, apa yang akan dijadikan sebagai objek pemantauan. Contoh :kesulitan belajar dan jenis –jenis kesalahan konsepsi matematika yang masih dialami para siswa.
c. Penjabaran data yang dibutuhkan pemantauan, penjabaran dari sasaran.
Contoh : guru perlu dapat memilah kesalahan karena kecerobohan atau ketidaktelitian dengan kesalahan karena kurang memahami makna dan cara penyelesaian soal.
d. Penyiapan mrtode atau alat pemantau sesua dengan sifat objek dan sumber atau jenis datanya.Contoh guru menyiapkan tugas berupa saoal yang harus dikerjakan secara mandiri oleh setiap siswa. Kertas atau buku yang berisi pekerjaan siswa akan menjadi sumber data utama, Dari pekerjaan itulah guru akan mengidentifikasi bagaimana dari bahan ajar matematika yang baru saja diajarkan, tetapi masih banyak yang belum dipahami, jenis keslahan apa pada umumnya masih dilakukan oleh siswa.
e. Perancangan analisis data pemantauan dan pemaknaanya dengan berorientasi pada tujuan pemantauan. Contoh : dalam analisis nantinya akan dilakukan pengelompokkan jenis-jenis kesalahan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan pembelajaran remedial, terutama pada sejumlah siswa yang memang masih mengalami kesulitan memahami pelajaran.
6. Pemanfaatan Hasil Pemantauan
Data yang telah terkumpul dari hasil pemantauan harus secepatnya diolah dan dimaknai sehingga dapat segera diketahui apakah tujuan pelaksanaan program tercapai atau tidak.

BAB 6

ANALISIS DATA DALAM EVALUASI PROGRAM

Tujuan evaluasi program adalah berupaya mencari rekomendasi. Rekomendasi ini didapatkan dari hasil telaah analisis data yang didapat dari lapangan. Analisis data kualitatif data kuantitatif merupakan topic yang biasa dilakukan dalam metode penelitian lanjut dan evaluasi. Ada beberapa hal yang mendasar yang perlu dipertimbangkan evaluator atau peneliti yang bisa membantu dalam memaknai setumpuk data, yaitu sebagai berikut:
Awali dengan tujuan evaluasi
Ketika kita menganaliis data (apakah dari tes, kuesioner, wawancara atau lainnya), selalu harus diawali dengan meninjau ulang tujuan evaluasi. Ini akan memudahkan kita dalam menyusun data dan memfokuskan analisis.

Hal-hal yang mendasar dalam Menganalisis Data Kualitatif
1. Buat salinan data dan simpan master salinannya. Gunakan salinan tersebut untuk pengeditan, pemotongan, atau yang lainnya.
2. Tabulasi data.
3. Untuk skala penilaian dan rangking, disarankan untuk menghitung rata-rata.

Hal Mendasar dalam Menganalisis Data Kualitatif
a. Baca semua data secara seksama.
b. Susun semua komentar pada kategori yang sejenis. Misalnya minat,perhatian, saran, kekuatan/kelemahan, output, indicator dampak, atau lainnya.
c. Beri nama kategori tersebut. Misalnya minat, perhatian, saran, dan seterusnya.
d. Usahakan untuk mengenal pola, dan hubungan kausal dari pola tersebut, misalnya orang yang terlibat dalam program selalu datang kesiangan memiliki perhatian yang sama, sebagian orang berasal dari daerah yang sama, sebagian orang memiliki rentang pendapatan yang sama, atau lainnya.
e. Simpan semua komentar itu untuk beberapa tahun kedepan setelah pelaksanaan evaluasi, siapa tahu dibutuhkan kelak.
f. Memproses data adalah mengolah data mentah menjadi wujud sajian data yang siap ditafsirkan melalui beberapa tahapan. Adapun tahapannya adalah:
a. Tabulasi data
Istilah tabulasi dapat diartikan “menyusun menjadi table”:. Pengertian lain tabulasi adalah pengolahan atau pemrosesan hingga menjadi table.
Tabulasi merupakan coding sheet yang memudahkan peneliti dalam mengolah dan menganalisisnya, baik secara manual maupun computer.
Data mentah yang diperoleh dari lapangan akan bervariasi, tergantung pada alat pengumpul data yang digunakan oleh evaluator, yaitu sebagai berikut:
1. Data yang diperoleh dengan menggunakan angket maka data yang diperoleh berupa centangan pada pilihan-pilihan, lingkaran pada angka atau huruf yang disediakan dalam instrument, atau kalimat-kalimat jawaban yang sifatnya kualitatifyang diperole
2. Data yang diperoleh dengan wawancara, wujud data yang diperoleh berbentuk centangan, lingkaran, dan kalimat jawaban yang diberikan oleh responden dan dicatat oleh petugas pengumpul data.
3. Data yang diperoleh dengan observasi maka wujud data yang diperoleh berbentuk centangan, lingakaran, dan kalimat-kalimat catatan petugas.
4. Data yang diperoleh dengan menggunakan dokumentasi berupa angka –angka atau symbol-simbol yang menunjukkan peringkat kondisi objek yang ditelaah.
5. Data yang diperoleh dengan tes atau inventori berupa angkah-angka yang menunjukkan skor nilai.

Dari kelima bentuk data yang dijelaskan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis data bias digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu
1. Nilai jadi, berupa nilai angka yang dibuat dan interpretasi kriteria dan tes.
2. Kode-kode atau symbol-simbol yang biasa berupa tanda centang dan lingkaran, atau memberikan tanda silang pada pilihan –pilihan.
3. Informasi dalam bentuk paparan kalimat yang memuat data keantitatif dan kualitatif.

BAB 7


MENYUSUN KESIMPULAN DAN RUMUSAN REKOMENDASI

Evaluasi program dilakukan dalam rangka mengumpulkan informasi untuk menentukan kelanjutan program yang dievaluasi. Informasi yang dapat menunjukkan posisi program, yakni dibagian mana sudah berhasil dan dibagian mana belum berhasi, merupakan kesimpulan yang ditarik dari hasil evaluasi. Selanjutnya dari kesimpulan itulah dirumuskan rekomendasi yang disampaikan kepada pengambil keputusan.

A. PEMBUATAN KESIMPULAN
Kesimpulan adalah sesutau yang merupakan inti dari sederetan informasi atau sajian yang menyatakan tentang status program yang sedang dievaluasi. Istilah untuk proses pembuatan kesimpulan adalah menarik kesimpulan(simpulan).

Di dalam proses evalusi program, kesimpulan diambil dari atau dibuat berdasarkan hasil analisis data yang sudah disajikan dalam bentuk yang sudah sistematis, ringkas, jelas. Sebuah kesimpulan berbentuk kalimat pertanyaan kualitatif yang menunjukkan keadaan atau sifat sesuatu sehingga di dalam gerak kegiatan program dengan cepat dan dapat diketahui dimana posisi hasil kegiatan tersebut dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan rumusan pernyataan yang bersifat kualitatif diharapkan bahwa didalam kesimpulan tersebut tidak lagi mencantumkan angka-angka rasio, persentase, lebih-lebih lagi masih dalam bentuk frekuensi.
Ringkasan atau rangkuman merupakan kependekan dari isi keseluruhan. Jika dirunut ke isi, semua bagian yang ada dalam suatu rangkuman tentu termuat di dalam isi. Kesimpulan adalah sesuatu yang berbeda, bukan sekedar rangkuman atau ringkasan. Kesimpulan merupakan sesuatu yang lebih tinggi kedudukannya dari ringkasan, karena sudah merupakan abstraksi (perasaan). Didalam rangaian proses, kesimpulan berada di bagian yang paling akhir (sebelum digunakan untuk merumuskan rekomendasi ). Setelah melalui proses awal, yakni data mentah. Tabulasi, analisis data, dan penyajian data.

B. RUMUSAN REKOMENDASI

Pengertian rekomendasi berasal dari istilah bahasa inggris, recommendation, yang berarti “pujian” atau “pengajuan pendapat sebagai pujian atas kebaikannya.” Didalam penelitian, istilah rekomendasi sering dialihgantikan dengan saran-saran.
Evaluasi program dimaksudkan sebagai upaya untuk memperoleh informasi sehubungan dengan dijalankannya suatu kebijakan/program. Informasi yang terkumpul dan sudaah dirumuskan menjadi kesimpulan, agar menjadi jelas arah kebijakan yang harus dilakukan oleh para pengambil keputusan, perlu diubah menjadi suatu rumusan rekomendasi dengan pengertian yang sudah dijelaskan. Yang diberikan kepada para pengambil kep-utusan bukan sekadar saran, tetapi dinyatakan dalam pernyataan yang cenderung memuji program atau bagiannya agar pengambil keputusan semakin mantap menetapkan kebijakan lanjutan.

BAB 8

MENYUSUN LAPORAN EVALUASI

Produk fifsik sebuah evaluasi terlihat pada laporan tertulisnya. Laporan tertulis harus disusun oleh seseorang atau tim evaluator, sehingga hasil evaluasinya dapat dipublikasikan dengan baik secara luas kepada orang atau pihak lain.
Setiap laporan evaluasi biasanya memuat empat hal pokok, yaitu:
1. Permasalahan.
2. Metodologi evaluasi.
3. Hasil evaluasi , dan
4. Kesimpulan atas hasil evaluasi.

A. PERMASALAHAN EVALUASI

Apa yang dipermasalahkan dalam suatu kegiatan evaluasi program biasanya perlu dijelaskan terlebih dahulu dalam laporan evaluasi.
Adanya kegiatan evaluasi dikerenakan adanya suatu masalah yang ingin dipecahkan atau ingin dijawab.
Segi-segi mengenai masalah evaluasi bias mencakup beberapa hal, seperti bagaimana rumusan masalahnya, latar belakang mengapa masalah tersebut dipilih untuk dievaluasi, apa tujuan yang ingin dicapai dengan mengevaluasi masalah tersebut dan ditinjau teori/kepustakaan/hasil-hasil evaluasi sebelumnya yang berkaitan dengan evaluasi tersebut.
Dalam laporan evaluasi kajian mengenai teori/kepustakaan/hasil-hasil evaluasi sebelumnya tidak dimaksudkan untuk merumuskan hipotesis. Hal ini dilakukan untuk menentukan asumsi-asumsi yang digunakan, ruang lingkup evaluasi, dan batasan-batasan istilah /konsep yang digunakan. Dalam laporan evaluasi pun perlu disertai penjelasan tentang letak tempat evaluasi diselenggarakan.


B. METODOLOGI EVALUASI

Untuk dapat menemukan dan memecahkan atau menjawab masalah evaluasi diperlukan prosedur-prosedur tertentu yang bersifat metodologi. Aspek metodologis ini, dalam laporan evaluasi, biasanya berisi penjelasan tentang tipe pendekatan evaluasi yang digunakan (survey atau sensus), tahap-tahap evaluasi program, teknik-teknik untuk mencapai standar (kredibilitas, konfirmabilitas, dependabilitas, dan transferabilitas), populasi dan sampel evaluasi metode pengumpulan data dan instrumentasi, serta strategi analisis data.

C. HASIL EVALUASI

Apabila data mengenai hal yang dipermasalahkan dalam evaluasi telah terkumpul, kemudian diolah dan dianalisis(menggunakan prosedur statistic atau menggunakan prosedur kualitatif abstraktif). Hasil pengolahan dan analisis tadi disajikan sebagai hasil evaluasi. Hasil evaluasi juga mencakup dimensi-dimensi yang bersifat konteks dari apa yang dipermasalahkan pada suatu evaluasi. Rangkaian ini seringkali disertai dengan pembahasan(diskusi ) hasil evaluasi.

D. KESIMPULAN HASIL EVALUASI

Hasil evaluasi yang telah disajiakan pada suatu laporan biasanya diikuti pengambilan kesimpulan, yaitu menarik simpulan tertentu atas dasar hasil evaluasi yang ada.
Simpulan tersebut biasanya bertingkat lebih abstrak daripada data atau hasil evaluasi itu sendiri, dan bersifat menjawab permasalahan evaluasi yang ada. Kesimpulan atas dasar hasil evaluasi lazim diikuti pula dengan pemberian sejumlah implikasi atau hasil evaluasi, termasuk saran-saran untuk evaluasi lebih lanjut.

E. SUSUNAN LAPORAN

Susunan laporan evaluasi sering pula disebut istilah “:format laporan” evaluasi. Hal ini biasanya bergantung pada jenis laporan evaluasi yang dibuat. Jenis laporan lazimnya dikaitkan dengan kelompok pembaca yang tergolong masyarakat akademis, ada pula kelompok pembaca yang tergolong masyarakat umum.
Laporan yang ditujukan untuk kelompok masyarakat akademis, biasanya dituntut untuk memenuhi patokan standar, baik dalam hal bahasa, organisasi penyajian(susunan bab-bab beserta subbbabnya), maupun teknis penulisannya (seperti cara pengutipan, penulisan catatan kaki atau catatan samping, kepustakaan; darftar isi, judul, bab, table, gambar, grafik, ukuran spasi pengetikan, ukuran kertas yang digunakan, dan sebagainya), bahkan proporsi jumlah halaman untuk setiap bab/bagian juga kadang-kadang ditentukan.

Laporan yang dimaksud untuk konsumsi kelompok masyarakat umum (seperti untuk lembaga-lembaga nonilmiah, pemerintahan maupun swasta, atau dipublikasikan secara luas dengan cara diterbitkan oleh suatu penerbit), patokan standar yang umumnya berlaku bagi laporan untuk konsumsi masyarakat akademis biasanya kurang dipentingkan \. Bahkan diperlukan sajian dan uraian secara populer dan sekomunikatif mungkin. Hal-hal yang terlampau teknis dan rinci biasanya tidak diutamakan, sebab kepedulian pembaca umum akan hal tersebut kurang dan dapat mengganggu dimensi komunikativitas laporan itu sendiri. Oleh sebab itu, bila laporan yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat akademis ingin dipublikasikan secara luas/umum perlu “dirombak” (dimodifikasi) terlebih dahulu sehingga menjadi lebih mudah dicerna oleh pembaca awam.
Laporan evaluasi ini tidak ubahnya seperti laporan penelitian, ada yang menggunkan pendekatan kuantitatif, dan ada yang menggunkan pendekatan kualitatif. Laporan evaluasi yang menggunakan pendekatan kuantitatif umumnya mempunyai susunan laporan yang relative tetap, biasanya terdiri atas lima atau enam bab, seperti berikut:

Berikut urutan laporan evaluasi yang terdiri atas lima bab.
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Pembahasan Kepustakaan
Bab III : Metodologi Evaluasi
Bab IV : Hasil Evaluasi dan Pembahasan
Bab V : Kesimpulan dan Rekomendasi
Sedangkan laporan evaluasi yang terdiri atas enam bab, urutannya
Sebagai berikut.
Bab I ; Pendahuluan
Bab II : Pembahasan Kepustakaan.
Bab III : Metodologi Evaluasi
Bab IV : Hasil Evaluasi
Bab V : Pembahasan Hasil Evaluasi
Bab VI : Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada bab pendahuluan, biasanya terdapat subbab seperti:
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Evaluasi
4. Manfaat Evaluasi
5. Batasan Konsep /Istilah/Variabel Evaluasi

Pada bab pembahasan kepustakaan, subbabnya sangat bergantung pada jumlah topic atau masalah dan/atau bangunan teori yang melandasi pelaksanaan evaluasi. Tujuannya untuk menunjukkan sejumlah konsep, teori, data, temuan-temuan yang bersangkut-paut dengan masalah evaluasi sehingga masalah yang dievaluasi menjadi lebih jelas dana kedudukannya dalam kerangka khazanah pengetahuan /kepustakaan terbukti sudah ada.

Pada bab metodologi evaluasi, subbabnya meliputi tipe/pendekatan/model evaluasi yang dilakukan, populasi dan sampel evaluasi, metode pengumpulan data, instrument pengukuran variable, antungdan metode/teknik/strategi analisis data.
Bab yang menyajikan hasil evaluasi, subbabnya sangat bergantung pada jumlah atau topik atau masalah evaluasi. Jika ada yang dievaluasi melibatkan lima aspek maka subbabnya tentu lima, apabila melibatkan tujuh aspek maka subbabnya pun tujuh, demikian seterusnya.
Bab pembahasan hasil evaluasi biasanya ,menguraikan dan membahas keseluruhan hasil evaluasi beserta tinjauan kepustakaan yang ada, hasil-hasil evaluasi yang lain, dan metodologi evaluasi yang digunakan, guna diperbandingkan satu dengan yang lain, dilacak keterkaitannya satu dengan yang lain, dan bahkan dievaluasi satu dengan yang lain sehingga kita dapat “menempatkan”bagaimana posisi hasil/temuan evaluasi tersebut dalam perspektif khazanah pengetahuan/teori yang telah ada.
Bab kesimpulan dan rekomendasi biasanya terdiri atas subbab kesimpulan evaluasi dan subbab saran-saran.
Susunan/organisasi laporan penelitian diatas termasuk format yang relatif baku dalam khazanah evaluasi yang menggunakan pendekatan kuantitatif.
Dalam evaluasi yang menggunakan pendekatan kuantitatif, laporannya disusun dalam beberapa bab dan subbab, yang dapat di identifikasi menjadi tiga bagian pokok
Bab 1 : Pendahuluan
Bab 2 : Inti Pembahasan
Bab 3 : Kesimpulan
Secara umum susunan/organisasi laporan evaluasi kualitatif, biasanya disajikan secara didaktis. Pertama –tama disajikan informasi pokok mengenai apa yang hendak dibahas (tertera dalam bagian pendahuluan), kemudian diikuti dengan uraian yang bersifat pembahasan(tertera dalam bagian pendahuluan ), kemudian diikuti dengan uraian yang bersifat pembahasan (tertera dalam inti pembahasan), dan akhirnya ditutup dengan memberikan beberapa kesimpulan penting dari apa yang telah dibahas.

Bagian pendahuluan biasanya berisi:
1. Latar Belakang evaluasi
2. Tema atau pokok masalah yang akan dievaluasi dan akan dibahas (termasuk penempatannya dalam konteks pengetahuan.
3. Pendekatan Umum atau Metodologi Evaluasi yang digunakan yang bersifat teknis dan rinci biasanya ditempatkan dibagian lampiran.
Secara lebih detail susunan /organisasi laporan evaluasi dapat di uraikan sebagai berikut :
1. Ringkasan eksekutif
Pada setiap laporan evaluasi biasanya sebelum masuk pada bab pendahuluan terdapat ringkasan bab eksekutif. Ringkasan eksekutif dituntut dapat memberikan informasi lugas sehingga dapat cepat dipahami dan dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan dan alternatif rekomendasi kebijakannya dengan dukungan kuat dari informasi empiris yang akurat serta nilai normatif yang tajam, sehinnga diketahui tingkat kelayakannya dan peluang keberhasilannya.
2. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Bagian ini menguraikan latar belakang empiris misalnya berupa kasus actual, konseptual ideologis, atau keduanya, untuk menunjukkan adanya permasalahan evaluasi.
b. Rumusan Masalah
Permasalahan evaluasi dirumuskan sedemikian rupa sehingga mencerminkan misi pencarian alternatif rekomendasi yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan
c. Tujuan Evaluasi.
Tujuan evaluasi menggambarkan berbagai alternatif rekomendasi kebijakan yang diperlukan dan layak untuk memecahkan permasalahan kebijakan.
d. Manfaat evaluasi
Dikarenakan evaluasi program berorientasi pada pencarian alternative rekomendasi kebijakan maka perumusan manfaat evaluasi harus dapat menunjukkan sasaran strategi yang menjadi pusat perhatian evaluasi program.
e. Batasan Pengertian
Apabila diperlukan evaluator dapat menyertakan beberapa batasan pengertian konsep kunci dari kegiatan evaluasinya.
3. Kajian Pustaka
Kajian pustaka diperlukan untuk:
a. Mempertajam masalah evaluasi
b. Mendasari pengembangan strategi, rancangan, dan model evaluasi.
c. Mendasari instrumentasi dan penafsiran makna dari data yang akan diperoleh.
d. Mendasari analisis dan perumusan alternatif kebijakan.
4. Metodologi Evaluasi
Metodologi evaluasi berbeda dengan metodologi penelitian, karena saran alternative rekomendasi yang menjadi sasaran pokok evaluasi memerlukan telaah khusus secara mendalam. Komponen penting dalam laporan tentang metodologi, yaitu cakupan wilayah evaluasi, pengumpulan data, triangulasi, dan analisis data.
a. Cakupan Wilayah Evaluasi
Bagian ini menunjukkan pembatasan cakupan seberapa jauh dapat diberlakukannya temuan evaluasi dan alternative rekomendasinya.
b. Rancangan Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi sangat dimungkinkan diterapkannya berbagai pendekatan evaluasi, seperti eksploratori, eksplanatori, deskripsi dan sebagainya bergantung pada peran evaluasi dalam proses kebijakan. Evaluasi dapat dilakukan dengan maksud untuk menjadi dasar perumusan kebijakan, untuk menunjang implementasi kebijakan atau untuk mengetahui kinerja dan dampak dari kebijakan.
c. Pengumpulan Data
Data dievaluasi dapat berada pada berbagai sumber data, karenanya tidak tertutup kemungkinan suatu evaluasi menggunakan berbagai metode dan alat pengumpulan data. Dalam rancangan harus jelas data apa saja yang diperlukan dan dikumpulkan, masing-masing perlu jelas sumber data, metode, serta instrument pengumpul datanya.
d. Triangulasi
Triangulasi merupakan suatu cara memandang permasalahan yang dievaluasi dari berbagai sudut pandang. Dapat dipandang dari banyak metode atau sumber data. Tujuannya agar dapat melihat objek evaluasi dari semua sisi.
e. Analisis Data
Cara analisis terdiri dari dua bagian, yaitu analisis untuk menghasilkan kesimpulan atas kebijakan data empiris dan analisis untuk menghasilkan alternative rekomendasi kebijakan. Analisis pertama untuk menemukan apa yang perlu direkomendasi, sedangkan analisis kedua menjadi dasar untuk merumuskan alternative rekomendasi kebijakan operasional.
5. Hasil Evaluasi
Bab hasil evaluasi ini memuat tiga komponen pokok;
a. Deskripsi Data.
b. Analisis data dan pembahasan.
c. Analisis rekomendasi.
6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Bab ini secara ringkas dan padat menyajikan kesimpulan yang diperoleh dari analisis data, dan alternative rekomendasi yang dirumuskan berdasarkan analisis rekomendasi.
7. Daftar Pustaka.
Daftar pustaka disusun sesuai dengan bahan acuan yang digunakan dalam evaluasi, baik mengenai subtansi maupun metodologi evaluasi. Sedangkan untuk tata cara penulisannya, para pembaca dipersilakan untuk membuka buku-buku penelitian atau tata cara penulisan ilmiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar