Senin, 04 Mei 2009

Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara UGM Luluskan 9882 Aksarawan Baru


Salah satu isu utama ketika memasuki era millenium ketiga adalah persoalan keaksaraan (literacy). Karenanya di tahun 2006 lalu, UNESCO telah menetapkan bahwa keaksaraan menjadi salah satu kegiatan utama dari program "Pendidikan untuk Semua" atau Education for All (EfA).

Bagi UNESCO, kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan faktor penting dan kondusif guna mendukung keberhasilan program lain. Dengan membaca, menulis dan berhitung, masyarakat secara bersama akan mampu melaksanakan program pengentasan kemiskinan, pengurangan angka kematian bayi, pengendalian jumlah penduduk, pencapaian kesetaraan jender, pembangunan berkelanjutan, penciptaan perdamaian dan pembangunan demokrasi.

Demikian dikatakan Wiwien Widyawati Rahayu pada penutupan Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara UGM. Selaku Koordinator Pelaksana program ini, dirinya mengatakan sebagai research university dan PT bervisi kerakyatan, UGM terpanggil untuk berperan aktif dalam isu global ini.

"Inilah peran itu, yaitu agenda Pemberantasan Buta Aksara yang dilakukan Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara (PLM PBA), yang merupakan pengembangan dari KKN PPM PBA yang telah dilakukan UGM selama ini," ujar Wiwien, Kamis (22/1) di Pendopo Bupati Gunungkidul, Wonosari Yogyakarta saat acara penutupan.

Dari program ini, katanya, berhasil diluluskan 9882 Aksarawan Baru dengan tingkat kelulusan SUKMA I mencapai 92,47% dari 10.687 peserta ujian. Dengan demikian sejak tahun 2006, jumlah warga belajar yang berhasil dimelek-aksara-kan melalui KKN PPM PBA maupun PLM PBA mencapai 27.882 orang.

Ditambahkannya, PLM PBA UGM yang dilaksanakan sejak 1 November 2008 hingga 22 Januari 2009, melibatkan 9 orang Dosen Pembimbing Tutor (DPT), 134 orang Mahasiswa Tutor (Mator) dan 1000 orang Tutor Lokal (Turlok) serta 11.129 Warga Belajar (WB) yang tersebar di dua Propinsi, DIY dan Jateng di empat Kabupaten, Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Wonosobo dan Purbalingga serta di 15 Kecamatan. Adapun beberapa kegiatan pendukung yang telah dilakukan antara lain pembekalan kepada DPT dan Mator serta Bimbingan Teknis (Bintek) untuk Turlok yang dilaksanakan secara bertahap di Kabupaten Gunungkidul tanggal 8 November 2008 wilayah Kecamatan wonosari, Playen, Tepus, Ngawen, Gedangsari, Tanjungsari dan di Kabupaten Bantul yang berlangsung di Pendopo SKB Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul.

"Untuk Kecamatan Semin dan Girisubo telah dilaksanakan pada tanggal 9 November 2008 lalu. Sementara untuk pembekalan Tutor Lokal di Purbalingga di Kecamatan Kutasari dan Mrebet dilakukan tanggal 15 November 2008 bersamaan pembekalan di Wonosobo di Kecamatan Sapuran dan kalijajar. Kegiatan lainnya yang juga dilakukan adalah pembagian paket ajar untuk warga belajar dan turlok," tambah dosen FIB UGM dalam laporannya.

Dr Wisnu Nurcahyo selaku Sekretaris LPPM UGM memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini, bahwa kegiatan ini menjadi parameter penting dalam HDI (Human Development Indeks) sebuah negara yang meliputi indeks bidang kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Sementara dalam indeks pendidikan, jelasnya, memperlihatkan dua tolok ukur, yaitu angka melek aksara orang dewasa dan angka lamanya waktu dalam mengenyam pendidikan.

"Terkait dengan angka melek aksara (literacy) yang menjadi salah satu komponen penentu dalam indeks pengembangan manusia, maka program pemberantasan buta aksara ini adalah sebuah keniscayaan dan mestinya menjadi kepedulian dan keseriusan banyak pihak secara bersama," jelas Wisnu.

Wisnu meyakini melalui penurunan angka buta aksara akan membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat pun pada akhirnya diharapkan mampu menggali dan meningkatkan potensi diri di wilayah masing-masing.

"Sesuai UUD 1945, bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan. Pasal 5 ayat 3 disebutkan, warga di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. Oleh karena itu, Pemberantasan Buta Aksara dilaksanakan dalam rangka upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat," terangnya.

Program Layanan Masyarakat (PLM) Pemberantasan Buta Aksara UGM ditutup secara resmi oleh Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan non Formal dan Informal Regional DIY dan Jawa Tengah, Dr H Ade Kusnadi MPd. Dengan ditutupnya kegiatan ini, Ade Kusnadi berharap muncul program lain sejenis yang mendukung.

"Karena kalau orang dewasa belajar baca tulis tanpa disertai layanan informasi dan bahan bacaan atau kegiatan yang ada kaitannya dengan membaca maka yang sudah didapat ini bisa lupa lagi. Sehingga bisa buta huruf lagi, repot lagi," katanya.

Dengan percepatan program PBA, katanya, wajah DIY yang notabene sebagai kota pendidikan akan segera terwujud dan terbebas dari angka buta huruf. Bahkan di Kabupaten Gunungkidul terbukti melebihi dari yang ditargetkan.

"Hal ini tentu saja karena peran UGM yang turun dengan sasaran sangat banyak, 50 ribu lebih," tandasnya, yang sekaligus berharap kerjasama terus berjalan di masa-masa mendatang.

Tampak Hadir penutupan program ini Wakil Bupati Hj Badingah SSos dan jajaran Muspida Gunungkidul, para dosen pendamping tutor, mahasiswa tutor, para tutor lokal dan para warga belajar.

Sunber :webugm@ugm.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar